selingkuh


Menjelang sore aku sampai di kontrakanku, sepanjang jalan aku melamun, langkahku seakan melayang, hari ini teramat panjang bagiku, rentetan kejadian yang membuat hatiku meletup-letup tak beraturan. Caesar cinta pertamaku tiba-tiba saja kembali, semenjak dua minggu yang lalu dia hadir, setiap hari dia datang ke toko kue tempat aku bekerja, dan dia selalu meminta agar aku yang melayani. Rudi dan Alex kedua temannya yang dari dulu sudah aku kenal, dan aku juga yakin mereka sangat akrab dengan wajahku, anehnya mereka bertiga hanya duduk manis menikmati hidangan yang setiap hari berganti model dan rasa, mereka hanya menatapku, tak ada kata, kadang aku melirik mereka di sela pekerjaanku melayani tamu lain, dan seringkali mataku bertabrakan dengan mata mereka bertiga, menurutku itu suatu hal yang aneh, apa mereka datang untuk menemuiku?, uhh siapa aku?, aku bukan siapa-siapa, mana mungkin mereka datang untuk melihatku.

Hari ini hanya Caesar yang datang, kedua temannya tidak terlihat, kesendirian pemuda ini membuat dia terlihat rapuh, aku tak tega melihatnya, sepertinya dia terpaksa datang sendiri dan memesan makanannya padaku, dia tidak nyaman, aku bisa melihat dengan jelas, terlihat sekali dia tersiksa dengan kesendiriannya itu, seharusnya dia tidak usah datang kalau tidak mampu bertahan sendiri seperti itu, dia sangat terlihat kaku, anehnya mengapa aku harus perduli, mengapa aku menghkawatirkan dia?, siapa aku?.

Ketika aku merasa semua berjalan dengan begitu kaku, tiba-tiba saja Susan datang menarik tanganku keluar dari toko, di depan toko dia mangambil HP yang aku pegang, sialnya aku baru saja menghubungi Leon, Leon tidak mengangkat telfonku, tapi namanya masih tertera jelas di sana, dan itu membuat Susan marah, dia melempar HPku, hancur berantakan, belum cukup sampai di sana, dia memakiku, mengatakan aku perusak hubungan dia dengan Leon, dia mengatakan sebentar lagi dia akan bertunangan dengan Leon, dia memintaku untuk menjauhi Leon, bla,bla,bla, aku tidak ingat apa lagi yang dia katakan. Leon datang memisahkan aku dan Susan, aku langsung masuk dan saat itulah Caesar meminta kopi panas padaku, aku benar-benar bingung, aku sedih, aku takut, aku kacau sekali, dan kopi panas itu tumpah mengotori baju Caesar, upsssss,  aku benar-benar tidak sengaja.

Caesar marah, dan menarik tanganku, bahkan dia tetap menarik tanganku ketika tante Anisa pemilik toko roti mencoba menghentikan langkahnya, Leon dan Susan menatap Caesar dengan tatapan yang aneh, Caesar tidak perduli dia terus menarik aku pergi menjauh dari toko. Satu sisi aku merasa di selamatkan dari angin topan yang di sebabkan oleh Susan dan Leon, tapi di sisi lain aku ketakutan, hukuman apa yang akan dia berikan kepadaku yang sudah menumpahkan kopi panas itu di pakaiannya, yang mungkin harganya selangit, aku tak berani memikirkannya, dan satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah menangis, aku menangis dan terus menangis, Caesar tak melepaskan tanganku, genggaman tangannya hangat dan mulai berkeringat, langkah kakinya yang panjang harus aku ikuti dengan lari kecilku, dadaku jelas bergemuruh seperti ombak besar yang menghantam dalam cuaca yang tidak normal.

Di pusat perbelanjaan Caesar memilih pakaian, dan aku terhenti di deretan DVD, Drama romantis berjejer rapi meminta untuk dibawa pulang, aku mencari-cari Kim aktor kesayanganku, tapi tak ada, yang ada hanya Lee, aku tau aktorku tidak banyak main film, dia lebih fokus pada dunia musiknya, aku sedikit kecewa, seharunya dia lebih banyak main film agar aku bisa tetap menikmati aktingnya. Saat itu Caesar ternyata sudah selesai, dan aku harus kembali padanya, taraaa, Caesar menghadiahkan drama Lee yang tadi aku pandangi, apa aku harus berterimakasih?.

Aku kembali di tarik, dan itu mengembalikan kesadaranku kalau saat ini aku adalah penjahat bagi Caesar, kami bukan sedang pacaran, tapi kami terlibat suatu kecelakaan yang membuat dia marah, aku kembali ketakutan, dan tangisku mulai mengalun lagi, aku benar-benar takut. Kami duduk di taman kota, diam tanpa kata-kata, sesekali Caesar bicara padaku, tapi aku tidak mampu menjawabnya, kecuali satu pertanyaannya.

“Apa dia aktor kesukaanmu?”.

Aku menggelangkan kepala dan menjawab. “Aku suka patung hidup”.

“Apa?, patung hidup?, apa ada aktor yang seperti itu?, kalau tidak suka kenapa di ambil?, kau ini benar-benar membuat aku gila, seharusnya kau komitmen pada kesukaanmu, kalau kau menyukai sesuatu fokus saja pada yang kau suka, jangan sembarangan berpindah pada hal lain, kau bisa menyesal nanti”.

Aneh, tiba-tiba saja dia memarahiku hanya gara-gara aku memilih aktor yang bukan aku suka, seharusnya dia memarahiku gara-gara bajunya yang rusak yang harus dia buang di Mall tadi, benar-benar laki-laki aneh, apa aku salah menjatuhkan cinta pertamaku kepada si idiot ini?.

Akhirnya dia menyuruhku pulang sendiri karena dia ada urusan lain, baguslah, tanpa pikir aku langsung pergi meninggalkan dia, aku bersyukur dia tidak menuntut ganti rugi padaku, bahkan aku mendapat satu set drama romantis, sekalipun aktornya bukan idolaku, tapi kalau aku tonton terus aku pasti bisa menyukai aktor ini, dia cukup tampan juga :)  .

***

Taraa, kejutan selanjutnya, Leon sudah duduk di ruang tamu, dia memandangiku, matanya mengecil, akhirnya tangannya menyambar benda yang aku pegang.

“Bahkan aktorpun kau selingkuhi sekarang, kalau Kim tau kau berpaling pada Lee apa dia tidak akan marah?”.

Leon memarahiku setelah dia melihat siapa aktornya, aneh kenapa dia ikutan marah?, apa salahku?, kenapa semua laki-laki hari ini memarahiku hanya gara-gara aku mengambil kaset yang aktornya bukan idolaku?.

“Itu Caesar yang membelikannya untukku, tadi aku menangis, aku ketakutan”.

“Kenapa kamu menangis di depan dia?, apa yang kamu takutkan?, kamu tidak sengaja menumpahkan kopi itu, tidak ada yang perlu kamu takutkan, nanti aku carikan kaset Kim untukmu, besok-besok kau diamlah di kamarmu, tonton saja semua kaset Kim yang kamu miliki, tidak usah pergi dengan dia lagi”.

“Kenapa?, kemaren-kemaren kamu memarahiku nonton Kim  terus, ada apa denganmu, lagian mana mungkin si Caesar mengajak aku jalan lagi?, aku tidak akan menumpahkan kopi di bajunya lagi, aku takut”.

“Setidaknya aku tidak khawatir kalau kamu diam di kamarmu memelototi patung hidup itu”.

“Lalu, bagaimana dengan Susan?, apa benar kalian akan segera bertunangan?”.

“Tidak usah hiraukan kata-kata Susan, ini aku belikan yang baru untukmu, lengkap dengan FB dan Instagramnya, aku sudah buatkan semuanya untukmu, kamu tinggal pakai”.

“Apa ini?, Android, ini kan mahal, aku tidak mampu menggantinya, HPku yang dibanting susan hanya barang murah, aku tidak mau yang ini, hei Leon, aku tidak mau”.

Leon menghilang begitu saja, dia pergi seiring dengan senja yang datang memagut malam, ada apa dengan Leon, dia terlihat sangat marah, apa kesalahanku, ah sudahlah, besok aku kembalikan android ini.

Malam ini mataku sulit terpejam, aku seperti baru saja melewati mimpi yang aneh, berjalan bergandengan tangan dengan Caesar, itu impianku dulu, sekarang menjadi nyata, tapi tidak ada kemesraan yang dulu selalu aku impikan, bahkan dia memarahiku, tapi aku sangat suka, wajahnya tetap tampan meskipun sedang marah, ini hanya mimpi, dan akan segera menghilang.

***

Paginya aku berusaha datang lebih awal membantu tante Anisa, wanita yang sudah aku anggap seperti ibuku ini melotot menatapku, bibirnya bergerak-gerak tapi tak ada kata yang keluar, akhirnya dia membanting lap yang ada di tangannya, mengalihkan pandangannya keluar ke arah orang yang sibuk lalu lalang entah hendak pergi ke mana.

“Tante, aku datang”. Kataku pelan tersenyum sedikit untuk meminta belas kasihannya agar tidak memarahiku karena tragedi kemaren siang.

“Alana, tante sangat cemas, harusnya kamu telfon tante, tante tidak bisa menghubungi kamu, apa kamu baik-baik saja ?, apa dia menyakitimu ?”.

“Tidak tante, dia tidak menyakitiku, lihat aku baik-baik saja, HPku hancur dibanting Susan,  Leon sudah belikan yang baru, tapi terlalu bagus untukku tante, lihat ini aku bawa lagi, aku akan mengembalikannya”. Aku mengangkat tas plastik yang berisi Android pemberian Leon semalam.

“Sudahlah, yang penting kamu baik-baik saja, dan tante tidak mau ikutan pusing memikirkan antara kamu Leon dan siapa gadis yang menyeramkan itu, urusi semua dengan baik, jangan sampai mengganggu pekerjaanmu”.

“Iya tante, trimakasih”. Kataku tersenyum, tante Anisa orang yang memperhatikanku sejak kecil, bahkan ketika Ayahku meninggal tante Anisa bersikeras mengambilku dari ibu, dan aku tau mengapa tante Anisa melakukannya, aku sangat berterima kasih untuk itu.

Lamunanku terhenti ketika Leon datang, dia memberikan bungkusan dan setelah aku lihat ternyata isinya beberapa kaset DVD tentang Kim, Leon ternyata berusaha mencarikan kaset Kim untukku, dia serius tidak menyukai aku menyelingkuhi aktorku ini, Leon tampak buru-buru.

“Lana, aku akan ke Bandung, mungkin selama 3-4 hari, kamu diam di kamarmu, tonton yang ini, jangan pergi ke mana-mana”.

“Leon, ini aku kembalikan, aku tidak mau”. Aku meletakkan bawaanku di samping vas bunga, Leon melirik, dan aku berlalu ke dalam dengan membawa kaset pemberian Leon barusan, tante Anisa sudah berteriak memanggilku dari dalam.

Hari ini terasa sangat sibuk, tamu-tamu mulai berdatangan, mereka meminta untuk segera di layani, ada yang menunggu dengan sabar, tapi ada juga yang terlihat tidak sabar, sedangkan di toko ini hanya ada tiga pelayan, aku, Santi, dan Rika. Aku sudah berkali-kali meminta tante Anisa untuk menambah pelayannya, tapi dia tidak mau, entah apa alasannya, banyak sekali alasan dan aku tidak bisa menerima alasan itu, menurutku itu alasan yang terlalu di buat-buat, ya sudahlah, terpaksa kami melalui hari-hari seperti ini.

Caesar datang tidak lama setelah Leon pergi, tapi dia tidak langsung memesan makanannya, dia duduk dan asik memainkan Androidnya, kadang dia tersenyum sendiri, melirikku, dan tersenyum lagi menatap Androidnya, benar-benar gila dia, ada kalanya aku seperti sedang dibidik oleh kamera, tapi ketika aku menatapnya dia terlihat biasa-biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa, mungkin perasaanku saja, aku terlalu GR.

Aku harus lebih berhati-hati, jangan sampai menumpahkan kopi lagi seperti kemaren, aku tidak mau terseret ke dalam mimpi buruk lagi, setidaknya aku bisa menatapnya tersenyum hari ini.

Jakarta, jum’at 15.05,2015

Love By November

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s