psikopat 2


Hatiku benar-benar tak tenang saat ini, bagaimana mungkin bisa Leon makan siang dengan Susan?, ou aku benar-benar lupa, dulu Susan memarahiku habis-habisan hanya gara-gara dia melihat aku berjalan dengan Leon, aku mengerti sekarang, ternyata Susan menyukai Leon. Tapi tetap saja aku tidak bisa menerima kenyataan yang baru saja aku lihat, kalau saja Tante membiarkan aku hari ini untuk tetap diam di kamarku, tidak menyuruhku untuk membeli keperluannya, tentu aku tidak perlu keluar, dan aku tidak akan melihat pemandangan itu, hatiku sangat tidak nyaman. Leon tadinya berniat mengajak aku makan siang, tapi akhirnya dia malah pergi dengan Susan, apa hatiku terluka?, entahlah.

Aku masih punya beberapa episode yang belum selesai, sepertinya malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang, aku akan melanjutkan tontonan ini, semoga hatiku kembali tenang, dan aku bisa tidur dengan nyenyak malam ini, tanpa gangguan Leon ataupun Susan.

Film ini sangat lucu, beberapa adegannya membuat aku tertawa terbahak-bahak, sampai airmataku meluncur turun, benar-benar lucu, inilah hal yang istimewa menurutku, leluco dalam film ini sangat segar, Aktornya tampan, apalagi yang satu itu, sampai saat ini belum ada yang bisa menandingi ketampanannya, yaa walau sedikit gemulai, hehehe, ketawa sendiri kalau memikirkan hal itu, sangat menyenangkan memikirkan orang yang tidak mengenal kita, aku dengan bebas memikirkan mereka tanpa harus takut ketahuan atau malu apabila suatu saat nanti bertemu, toh mereka tidak kenal aku.

“Lana, kamu sudah tidur?”.

Hmm Leon, kenapa dia selalu saja datang menggangguku, dan dia datang di saat aku sedang menikmati ketampanan Aktor kesayanganku, sepertinya dia akan mengomel lagi, seperti kemaren dan kemarennya lagi.

“Lanaaa, aku masuk yaaa ..”.

Dan dengan tenangnya dia membuka pintu kamarku dan masuk, tada matanya membulat menatap apa yang sedang aku tonton, kepalanyapun akan terus bergerak kiri dan kanan, aku hapal sekali dengan kebiasaanya, aku sangat hapal.

“Dari tadi siang kamu tidak berhenti menonton dia?, coba periksa matamu itu, sebentar lagi kamu akan menggunakan kaca mata yang tebal”.

“Kau membuat selera nontonku hilang”. Aku bergerak mematikan tontonanku sebelumnya mengeluarkan kasetnya dulu, aku mendahului Leon, dia selalu melakukannya dengan tergesa-gesa, dan itu membuat kasetku sering rusak.

“Kenapa dimatikan?”.

“Kau sudah datang, pasti mau bercerita, dan aku harus mendengarkan ceritamu, benarkan?”. Aku balik bertanya dan duduk manis menatapnya menunggu cerita apa yang dia bawa untukku malam ini.

“Tidak ada cerita, aku hanya ingin melihatmu sebelum aku tidur”.

“Kalau begitu, aku yang akan bercerita, kau harus mendengarkan aku, ayo duduk”. Aku meraih tangan Leon, begitu dingin, entah dari mana dia tadi, kenapa sedingin itu tangannya.

“Hmm, baiklah, semoga suatu cerita nyata, bukan kisah dari aktor idiotmu itu, aku bosa mendengar cerita itu”.

“Siang tadi tante menyuruhku ke Mall untuk membeli sesuatu, dan di sana aku melihat Susan, dia makan dengan seorang pria, aku sepertinya mengenal pria itu, tapi aku lupa, siapa yaa?”. Aku memulai ceritaku tentang perjalananku siang tadi, aku sangat penasaran, apa yang terjadi, maukah Leon jujur padaku malam ini?.

“Langsung saja, pria itu aku kan?, tidak perlu berbelit-belit seperti itu, kisahmu sungguh tidak menarik, apa yang kau ingin ketahui?, atau kau cemburu?”.

“Cemburu?, untuk apa aku cemburu, kau bukan siapa-siapaku, aku hanya bingung saja, begitu gampangnya kau mendapatkan pengganti teman makan siangmu, setelah aku tidak bisa ikut denganmu”. Agak aneh dengan pernyataan Leon barusan, cemburu, sulit di percaya.

“Bukan siapa-siapa katamu?, huh kau menyakiti perasaanku, aku sudah mendampingimu hampir tiga tahun, apa itu tidak ada artinya bagimu?”.

“Yaa, tetap saja kau bukan pacarku, kau bebas pergi dengan siapa saja”. Aku berusaha menjelaskan apa yang ada di pikiranku.

“Baiklah, waktu aku sedang makan, tiba-tiba saja Susan datang dan duduk di sebelahku, oya, kami sudah lama saling kenal, biasalah kalau ada pertemuan keluarga besar kami akan bertemu, juga dengan anak-anak lainnya, dan kebetulan kami juga satu Fakultas, jadi secara normal kami memang saling kenal, dan kamu, apa dia temanmu?, kalau tidak salah kalian berasal dari Sekolah yang sama”.

“Iya, kami dari Sekolah yang sama, tapi dia bukan temanku, dia berada di level atas dan aku berada di level yang berbeda, aku hanya kenal begitu saja dengan dia, seperti itulah, kau mengertikan apa yang aku maksud?”. Apa Leon paham dengan bahasaku kali ini?, semoga saja.

“Emang masih ada hal seperti itu?, level atas, level bawah?, aku tidak percaya?”.

“Seperti itulah kenyataanya, kami yang biasa-biasa saja akan tersingkir dengan sendirinya, sudah hukum alam”.

“Ou, hukum alam ya, bagaimana perasaanmu saat ini, kau puas dengan jawabanku?, semoga malam ini kau tidak mimpi buruk ya, jangan sampai hatimu terluka setelah kejadian siang tadi, seharusnya kau menjadi pacarku sejak dulu, agar manusia tampan di hadapanmu ini tidak berpaling pada gadis lain, masih ada kesempatan kok, kau belum terlambat”.

“Apa?, kau sedang merayuku?, sudah malam, kau pulanglah, aku mau tidur, aku ngantuk”. Aku mengusir Leon, karena pembicaraannya mulai ngelantur.

“Lana, aku serius, kau pikirkanlah jawabannya, aku pulang, tapi kau janji, langsung tidur, jangan nonton lagi, istirahatkan matamu itu”.

Akhirnya Leon pulang juga, aku merasa sangat lega, kata-katanya sudah mulai berbahaya, terkadang aku merasa sesak nafas, mencari cara untuk menghindar dari serangannya yang selalu tiba-tiba, malam ini aku selamat, tapi bagaimana dengan besok dan besoknya lagi, sepertinya aku mulai merasa khawatir.

Cinta pertamaku pada Caesar sangat menyakitkan, cinta pertama yang telah berakhir tampa pernah dimulai, dan itu membuat luka yang menganga cukup dalam di hatiku, baru satu cinta yang aku biarkan tumbuh di hatiku sudah membuat aku sekarat, bagaimana bisa aku membiarkan cinta lain tumbuh, aku bisa mati, aku sudah tidak mau lagi, aku tidak menginginkannya lagi, hidupku sudah cukup sengsara, aku tidak akan pernah menambah kesengsaraan lagi dalam hidupku.

Jakarta 14 April 2015

Love by November

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s