mengapa berhenti menulis


Assalamualaikum Wr Wb.

 

Menguak tabir menghilangnya seorang penulis, menghilang dari riuh rendahnya penulisan di dumay, dunia maya, bukan siapa-siapa, hanya seorang insan biasa, yang  memiliki hobi menulis.


Tulisan nya juga biasa-biasa saja, tidak ada yang menarik, terkesan berantakan, penyusunan kata dan kalimat juga suka-suka dia, sering mendapat kritikan, sering mendapat pembetulan kata atau kalimat, dia menulis semaunya.

Baginya, itu adalah lahannya, kalau suka silahkan di baca, kalau tidak suka silahkan pergi. Baginya, cukup dia saja yang menyukai apa yang dia tulis, cukup dia saja yang mengerti apa arti tulisannya, yang penting hatinya berkenan dengan tulisan yang tercipta dari hayalannya.

Namun, semakin berjalannya waktu, tulisannya mulai di baca oleh beberapa pengelana dumay, pengembara dumay. Namanya mulai menghias dumay, sebagai seorang penulis amatiran.

Hmm…singkat  cerita dia menghilang, pergi, tulisannya kadang ada kadang tidak, rumahnya di dumay sepi bagai tak berpenghuni.

Seorang pengamat bertanya.

“Mengapa kamu berhenti menulis?”.

Si penulis menjawab.

“Malas”.

“Dan …”.

“Bosan”.

“Lalu …”.

“Capek”.

“Tulisan itu kelak menjadi kenangan, bagi saudaramu, keluargamu, dan teman-temanmu”.

Sang penulis diam, penjelasan seperti apapun tidak akan memuaskan bagi orang lain, mereka tidak akan mengerti, untuk apa aku menjawab.

Apa yang membuat aku berhenti?

  1. Bosan. Sepertinya tidak, salah satu hal yang sangat menyenangkan adalah menulis, lelah bisa jadi, berhenti sejenak, sehari dua hari setelah itu akan kembali bersemangat lagi.
  2. Notebook lagi bermasalah. Alasan itu juga tidak bisa di pakai, karena sudah ada Android.
  3. Internet gak bagus, emang gak bagus, terus mau diapain lagi,😀
  4. Gak ada ide. Bohong kalo ini jadi alasan, karena setiap saat itu ide menulis terus saja mengalir tiada henti, kalo malas bisa jadi.
  5. Dll. Dan lain-lain, dan sebagainya.

Eh tunggu, kok jadi repot mikirin jawaban dari pertanyaan si pengamat tadi?, sebenarnya dia siapa?, terus apa untungnya buat dia mengamati kegiatanku.

Paling juga orang lewat doang, orang iseng gak da kerjaan, sok perhatian gitu. Kok ada ya orang yang membuang waktunya untuk memperhatikan orang lain?, yah sudahlah, itulah fungsi pengamat, mereka hanya mengamati setelah itu mengomentari, sisanya terserah pada si korban yang di amati itu.

Baiklah alasan klise kenapa berhenti menulis sudah terjawab, siapa si pengamat juga sudah terjawab, sekarang tinggal mencari jawaban yang sesungguhnya.

Ayo jawab…

Kenapa aku harus menjawab…

Agar kamu tidak penasaran…

Kamu atau aku yang penasaran?…

Sama saja, aku atau kamu sama saja…

Apa yaa…

Dulu sekali, menulis begitu sangat menggairahkan, segalanya dituliskan, tentang cinta, tentang bahagia, kesedihan, kebanggaan,  putus asa, pokoknya semua ditulis. Tanpa perduli kepada apapun, tidak perduli pada perasaan orang yang membaca, tidak perduli pada pendapat orang lain, semua hantam kromo, tidak ada halangan dan rintangan.

Tapi, beberapa waktu lalu ada yang komentar kalau tulisan aku seperti kisah nyata, dan matanya sangat jelas tersirat luka, dia terluka karena tulisanku.

Untuk pertama kali aku merasa kecewa, aku merasa gagal, tidak pernah terniat di hatiku untuk membuat orang terluka dengan tulisanku, tapi itu yang terjadi.

Dan itu yang membuat kamu menggantung pulpen dan kertas, kamu berhenti menulis.

Untuk sementara, aku mencoba untuk merenungi apa yang ada di sekitar tulisan, dia bukan cuma kata-kata menulis, hasilnya sebuah tulisan, yang membacanya bisa beberapa orang, bisa ratusan bahkan ribuan orang, apalagi dumay, dunia maya itu jangkauannya sangat luas, tidak akan terhitung secara akal sehat.

Pembacanya bisa dari orang-orang yang hanya mengenalku di dumay, bisa dari teman-temanku yang mengenalku dalam kehidupan nyata, mungkin teman kerjaku dulu, atau teman sekolahku dulu, bisa juga salah satu dari keluarga besarku, atau bahkan orang terdekatku.

Bagaimana dengan pemahaman mereka tentang tulisanku, ada yang sekedar membaca dan mereka bilang, oo bagus ternyata temanku pandai menulis. Wah hebat tulisannya bagus, seperti nyata. Mereka yang hanya penikmat bacaan, setelah itu ya berlalu begitu saja, bagi mereka aku seorang penulis yang berani tampil, banyak penulis yang malu-malu, sehingga tulisan mereka membusuk di dalam file komputer, atau menumpuk dalam laci meja, dan akhirnya menjadi sampah.

Sebagian lagi, mereka yang berada di dekatku, ketika mendapati tulisanku, mereka kaget, kok aku tidak pernah tau kalau dia punya hobi seperti ini, sejak kapan dia punya ini, terus apa ini?, dan seterusnya, beribu pertanyaan muncul dalam benak mereka, dan pada akhirnya timbul kesimpulan dalam pikiran mereka, menyudutkan aku dengan tuduhan yang tidak berdasar.

Cukup kecewa dengan kenyataan ini, ketika jiwa seni ku di lecehkan, nuraniku merasa terancam, merasa disakiti,  apa salahku ketika rasa sedih jiwaku terpanggil dan terciptalah penggalan kisah yang tercurah lewat jari-jemariku, sehingga sepotong kisah sedih terlahir, apa salahku?, kalau memang hatimu bergetar karena kisah itu, itulah kekuatan dari daya khayalku, salahku di mana?.

Kamu bisa jelaskan kalau itu hanya kisah dalam tulisanmu.

Ketika seorang dalam keadaan terluka, apa penjelasanku bisa diterima?, ah sudahlah, aku tidak bisa menjelaskan apapun. Terserahlah.

Dan kamu berhenti cukup lama.

Aku melihat tulisan teman-teman di fb dan di blog, melihat komentar pembacanya, ternyata memang komentar mereka berbeda-beda, sesuai dengan bagaimana pemahaman mereka, sesuai juga dengan suasana hati mereka saat membaca.

Ketika sebuah tulisan di buat secara asal tanpa dasar, tanpa alasan, mungkin menceritakan sebuah kasus yang sedang menjadi topik hangat, dan di buat secara tergesa-gesa, hasil akhirnya seperti apa. Bisa saja berita itu menjadi sebuah fitnah yang kejam, menyudutkan orang yang tidak bersalah, dan serta merta hujatanpun meluncur deras, tanpa bisa si orang yang di beritakan itu membela diri. Pembulian terjadi karena sebuah tulisan, siapa yang harus bertanggung jawab, siapa yang harus di persalahkan.

Bahkan butuh waktu lama untuk membuktikan bahwa tulisan kecil tadi tidak benar, mungkin si penulisnya sudah lupa, si pembaca juga sudah lupa, tapi di korban yang di buli, dia merasa wajib untuk membuat suatu penjelasan, walaupun waktunya sudah sangat lama, dan selama itu pula hatinya tersiksa. Siapa yang harus bertanggung jawab?, adakah si penulis pertama tadi berfikir?.

Kamu takut, dan kamu berhenti menulis.

Aku harus takut, kalau tidak mungkin esok atau lusa akan tercipta ribuan tulisan dari tanganku yang akan membuat banyak orang terluka, aku harus takut, hanya rasa takut yang bisa membuat batas-batas sampai di mana aku boleh menulis, kalau tidak, bagaimana aku bisa mempertanggung jawabkan tulisanku kelak.

Hmmm, itu akan menghalangi langkahmu.

Ya, tidak seperti itu juga sih, kalau memang aku ambisius, mungkin aku akan lakukan apa saja, kata lainnya menghalalkan segala cara, misalnya aku mau blog aku banyak di kunjungi orang, aku bisa gunakan judul yang ekstrim, judul yang banyak di cari. Tapi kembali lagi itu sama saja melewati batas-batas tadi, dan sangat sulit untuk mempertanggung jawabkannya, apalagi kalau sampai terjadi salah paham oleh pembaca.

Berarti kamu cari aman.

Mungkin juga, tapi lebih baik begitu, dari pada mencari sensasi gak jelas, menjadi provokator, manjadi bahan bakar, atau malah mempermainkan pembaca dengan informasi yang berbelit-belit. Seperti misalnya berita yang sangat hangat minggu-minggu terakhir ini, tentang kopi vietnam yang bercampur dengan sianida, aku tertarik dengan judul yang mereka tulis, mereka menulis “Terkuak rahasia kematian Mirna”. Tapi setelah aku baca ternyata hanya tentang dugaan-dugaan sementara, terus ada sambungannya ke halaman selanjutnya, semua bisa berjumlah 12 atau lebih halaman, tapi tidak satupun yang menyebutkan penyebabnya, bahkan di ujung tulisan di katakan kalau masih dalam proses penyelidikan dan menunggu berita selanjutnya, ckckck, jelas sekali dia mempermainkan pembaca, dia hanya mau orang-orang ramai membaca tulisan dia, hanya ingin banyak pembaca saja, berita yang di tulis terlalu dipaksakan.

Itu mungkin berita dari seorang jurnalis, mereka pemburu berita, untuk menghasilkan uang, itu mata pencariannya.

Terjebak di antara dua pilihan memang sulit, antara hobi dan pekerjaan, yang penting ketika aku merasa keluar dari koridor yang sudah ada ya aku harus buru-buru kembali masuk, harus berhati-hati, bahkan seekor tupai yang sudah biasa melompat, sudah pintar dan ahli melompat, sekali-sekali dia jatuh juga.

Penulis atau profesi apapun juga tetap harus berhati-hati, meskipun terkadang menghadapi tekanan yang menyebabkan peperangan dengan hati nurani.

Mungkin si Penulis akan kembali, tapi tidak akan sama seperti dulu lagi.

Akhir kata, mohon maaf apabila ada kekeliruan dalam penulisan ataupun bahasanya, namanya juga manusia tak ada yang sempurna.

Wassalam

Fitr4y

Jakarta, februari 2016

Lovebynovember

 

 

 

2 pemikiran pada “mengapa berhenti menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s