9. terbelenggu rindu


Oktober pertengahan suasana semakin panas, bagaimana dengan diriku, hatiku, perasaanku?, entahlah, sepertinya aku berjalan dalam mimpi yang buruk, yah hidupku seperti berada dalam sebuah mimpi yang buruk, aku ingin sekali terjaga dari kondisi ini, tapi betapapun kerasnya aku berusaha, aku tetap gagal.Alana gadis yang sangat aku sayangi, tapi tak mampu menerima ketulusan hatiku, dan Caesar dia semakin erat menempel pada

Alana,menempel seperti lalat, aku masih tak bisa menerima kenyataan ini.  Susan, aku tak mampu berkata untuk dia, mungkin hanya kata maaf yang bisa aku ucapkan saat ini, Susan berusaha untuk selalu berada di dekatku, tapi hatinya selalu terlukai olehku.

Sore ini tiba-tiba saja masuk foto ke ponselku, foto yang membuat aku hampir gila, bagaimana tidak Alana berdua dengan Caesar terlihat akrab dan berada di sebuah ruangan, kemudian foto berikutnya mereka berdua sedang berada di sebuah taman, dan entah di mana lagi, aku semakin merasa kegilaan ini menggerogoti diriku. Aku tidak bisa menguasai diriku, aku langsung menghubungi nomor yang tertera di ponselku.

“Hei, kau di mana sekarang?, jangan sentuh Alana sedikitpun!”. Aku berteriak sekuat tenaga, serasa di atas kepalaku mengepul asap hitam karena kemarahanku.

“Hoho, kau mengkhawatirkan gadismu ini?, kalau bagitu datanglah, sekarang, jangan sampai terlambat”.

Dia mematikan telfonnya dan tak lama masuk SMS berisi alamat ke mana aku harus pergi sekarang, ini di daerah Bogor, apa maksud dia, Caesar awas kau, kalau kau menganggu Alana ku hajar kau.

Aku berpacu dengan senja, seperti orang di kejar setan aku memacu kendaraanku, jalan tol di sore menjelang malam tidak semacet di pagi hari, karena orang lebih banyak turun menuju Jakarta, dan ini membuat aku sedikit bisa menarik nafas, cepatlah aku sudah tidak bisa bersabar lagi.

Entah kenapa aku sangat mencemaskan Alana, dia gadis yang sangat lugu, bahkan dia menganggap semua keindahan itu adalah dongeng seperti kisah Cinderella dan Putri Salju, dia hanya berkhayal tentang keindahan dan kebahagiaan, gadis yang sangat naif, apa dia tau bahaya yang mengintainya?. Bahkan seorang Caesar yang dia puja sepanjang masa remajanya adalah Buaya yang sangat ganas, Predator yang kapan saja akan siap menerkamnya, Alana, tolong hati-hatilah, tunggu sebentar lagi aku akan datang, tunggu aku.

Ketika mobilku sampai di tempat tujuan, aku pun berlari secepat kilat, aku benar-benar gila, berteriak memanggil-manggil.

“Alana, Alana, di mana kamu?”.

Aku menemukan mereka di ruang tengah, ini seperti sebuah Villa, entah milik siapa, apa Caesar pemilik Villa ini?, aku sedikit cemburu dengan keberuntungan dia, bahkan aku harus membantu pekerjaan Papaku di Kantornya sepulang kuliah, hanya untuk mendapatkan sebuah mobil yang terbilang biasa, uh sudahlah nanti saja memikirkan hal ini. Aneh mereka ternyata bertiga dengan Susan, hatiku sedikit lega, tidak hatiku sangat lega.

“Selamat datang Leon, kau terlambat”. Caesar tertawa lebar menatapku.

“Jadi, ini semacam Arisan?”. Kataku dan duduk di sebelah Susan, mereka duduk lesehan di atas karpet tebal yang terbentang, lumayan juga sepertinya ini acara yang penuh dengan kekeluargaan.

“Tidak, ini adalah acara Kencan Ganda, kau dan Susan sedangkan aku dengan Alana”. Caesar menatapku dengan penuh kemenangan.

“Bukan bagitu, Caesar akan membuat sebuah pengakuan, ayo Caesar mulailah”.

Alana menyela perdebatanku dengan Caesar.

“Baiklah, tapi sebelumnya aku ucapkan terimakasih kepada kalian berdua, Susan dan kau Leon sudah bersedia hadir di tempat yang sederhana ini, mohon maaf kalau kalian berdua kurang nyaman”.

“Sangat nyaman Caesar, aku suka tempat ini, dan terimakasih sudah mengundangku ke sini”.

Susan menjawab sambutan Caesar dengan tenang dan penuh senyuman.

“Hanya aku dan Susan?, bagaimana dengan Alana?, apa dia nyaman di sini?”, Tanyaku dengan nada penuh emosi.

“Alana ya, dia tentu nyaman sekali, kami sudah sejak tadi siang di sini, dan dia sangat menikmati, benarkan Lana?”. Caesar menebar kemesraannya dengan Alana di depanku.

“Caesar, cepatlah, aku sudah lelah”.

Alana kembali bicara dan dia sepertinya benar-benar lelah.

“Baiklah, atas permintaan Alana, aku minta maaf atas perbuatanku yang tidak menyenangkan kemaren, aku benar-benar hilang kendali, dan yah aku minta maaf padamu Leon, juga padamu Susan, aku membuat kalian berdua tidak nyaman”.

“Jadi kau meminta maaf karena permintaan Alana?, kalau dia tidak memintanya artinya kau tidak meminta maaf?”. Aku kecewa dengan apa yang barusan aku dengar.

“Yang jelas aku sudah meminta maaf kan?, apa lagi?”.

“Kau tidak merasa itu suatu kesalahan?,.. sudahlah, terserah kau saja, aku tidak perduli”. Percuma aku berdebat dengan anak ini, adatnya memang luar biasa keras, tidak jauh beda dengan Oscar kakaknya, aku sudah sangat hapal dengan tabiat mereka.

“Selesai?, nah kalau begitu mari kita mulai permainan kita, ayoo”.

Susan tertawa lebar dan terlihat sangat gembira.

“Permainan apa lagi?”. Aku merasa terjebak dengan mereka, hanya Caesar dan Susan yang bersemangat Alana terlihat sudah tidak nyaman, sesekali dia menguap, memang gadis ini sesuai dengan julukannya, Si Tukang Tidur.

Botol kaca yang sedari tadi tergeletak manis di tengah-tengah kami, sekarang di pegang oleh Susan, dia bersiap untuk memutar botol itu, ketika botol berhenti dan mengarah pada salah seorang dari kami maka dia harus menjawab pertanyaan salah satu dari kami, dan jawaban itu harus jujur, kalau tidak mau menjawab sudah ada arang hitam sebagai hukumannya, wajah yang tidak bersedia menjawab harus bersedia di coret dengan arang itu, benar-benar permainan kekanak-kanakan sekali.

“Ayo, siapa takut, mulailah”. Kataku tidak sabar.

Botol hijau itu berputar beberapa kali, kami berempat menunggu kepada siapa dia mengarahkan kepalanya, tiba-tiba saja hatiku berdebar-debar, pertanyaan apa kira-kira yang akan aku sampaikan kepada mereka, botol itu berhenti dan tepat mengarah kepada Caesar, lelaki itu tertawa lebar, dan menunggu pertanyaan apa yang harus dia jawab, aneh dia tidak takut sedikitpun, apa ini benar-benar menyenangkan bagi dia?.

“Aku, aku yang bertanya duluan, Caesar, apa aku benar-benar tidak menarik?, rambutku kriwil, kulitku hitam?, dan hidungku cuman secomot?, apa aku sejelek itu?”.

Pertanyaan Alana sangat aneh bagiku, tapi Caesar tertawa terbahak-bahak, aku semakin gerah.

“Kau masih memikirkan itu?, aku saja sudah lupa, sebenarnya itu merupakan kiasan saja, atau Antonim, kebalikannya, ah sudahlah, kau tidak akan mengerti, yang jelas sebenarnya kau ini gadis yang sangat menarik, jawabanku sudah cukup”.

“Aku tidak mengerti, jawabanmu tidak memuaskanku”.

Alana bergerak mengambil arang di sampingnya, dan dengan cepat dia mencoret wajah Caesar, Susan langsung tertawa begitupun dengan aku, tiba-tiba saja permainan ini menjadi sangat menarik, Caesar terlihat pasrah terhadap Alana, ini benar-benar lucu, baiklah sepertinya aku mulai menyukai permainan ini.

Botol berikutnya di putar oleh Caesar, dia sempat melirikku, aku sedikit cemas dengan tatapan matanya yang hanya sekilas itu, sinyal bahaya aku terima, sepertinya aku harus berhati-hati, dan botol itu berhenti tepat mengarah ke pada Susan.

“Nah, giliranku yang bertanya, Susan, sebenarnya saat ini siapakah yang berada dalam hatimu?”.

Pertanyaan Caesar membuat hatiku berdegup kencang, sepertinya dia sengaja mangajukan pertanyaan itu, aku merasa di sudutkan.

“Tentu saja Leon, kami akan menikah menunggu pertemuan keluarga yang berikutnya untuk penentuan tanggalnya, aku menginginkan ucapan selamat dari kalian”.

Susan menjawab dengan penuh senyuman dan penuh percaya diri, aku sedikit terluka, entahlah.

“Selamat ya, aku turut bahagia untuk kalian berdua”.

Caesar tertawa lebar dan bertepuk tangan, aku mendadak berasa mual dan ingin muntah.

“Bagaimana dengan kamu Alana?”.

Susan tersenyum kepada Alana yang terlihat kaget ketika Susan menyebut namanya.

“Aku,, tentu saja harus ucapkan Selamat juga untukmu dan Leon”.

Lana terlihat tak yakin dengan ucapannya sendiri, senyumannya terlihat sangat terpaksa.

“Terimakasih Lana, aku senang, sekarang kita semua benar-benar seperti satu keluarga”.

Susan terlihat sangat gembira, senyumannya terus mengembang, binar matanya penuh cahaya.

Sepertinya semua setuju dengan jawaban Susan, dan gadis itu selamat dari coretan arang hitam, sayang sekali dia tak mau menanyai ku, ah sudahlah.

Botol hijau kembali berputar, dan tepat mengarah kepada ku…

“Aku yang akan bertanya, menurutmu, aku ini seperti apa dan setelah kita menikah nanti menurutmu aku ini menjadi istri yang bagaimana?, hmm mungkin ini harapanmu tentang aku…”

Susan mengajukan pertanyaan yang rumit, dia sangat percaya diri sekali, apa yang harus aku katakan, Caesar dan Lana juga sepertinya menantikan jawaban dari ku.

“Kamu,… bagaikan sebuah gitar yang mahal, bagus dan indah, harus seorang pemusik yang handal yang akan menjadi pendamping kamu, pemain gitar yang hebat dan sebuah gitar yang bagus akan menghasilkan irama yang bagus dan indah, … yah  seperti  itulah”.

Aku mengakhiri jawabanku, Caesar melotot menatapku, Alana tersenyum dengan indahnya, sedangkan Susan terlihat sangat bahagia, dia tersenyum dan terus tersenyum menatapku, entah apa mereka mengerti dengan apa yang aku ucapkan.

“Akhh.. kau membual, kata-katamu seperti dongeng”.

Caesar mengambil arang dan mendekatiku, dengan semangat dia mencoret wajahku, aku berusaha menghindar, tapi akhirnya tetap saja aku kalah, dan mereka semua tertawa riuh, aku benar-benar kalah.

Akhirnya botol itu aku putar dan berharap tidak mengarah padaku lagi, serasa seperti berada di atas perapian, sangat panas, botol itu kembali mengarah pada Caesar, hmm aku harus hajar dia kali ini …

“Ayo, tanyakan apa saja padaku …”.

Caesar terlihat sangat bersemangat dan tertawa penuh kebahagiaan, aku heran kenapa dia bisa seperti ini hidup tanpa beban sedikit pun.

“Tidak ada pertanyaan lagi untukmu, aku tidak mau tau apa-apa lagi”.

Lana terlihat marah, dia mengambil botol dan mengarahkan tepat kepada dirinya sendiri tanpa memutarnya, sepertinya dia ingin sekali mengatakan sesuatu, kami semua terdiam menatapnya, dan menunggu apa yang ingin dia sampaikan.

“Baiklah, sekarang giliranku, aku ingin kalian semua mendengarkan aku, … aku sangat senang bisa berteman dengan kalian semua, aku sangat senang bisa mengenal kalian semua, pokoknya aku bahagia bisa bergembira dengan kalian seperti sekarang ini, aku mau kalian semua juga saling berteman tanpa saling menyakiti, tanpa saling berprasangka buruk, aku mau kita semua saling percaya, saling menjaga dan tidak ada lagi permusuhan, aku mau kita semua berjanji untuk menjadi teman yang setia”.

Alana mengakhiri kata-katanya dan mengacungkan kelingkingnya ke depan, untuk sesaat kami saling pandang dan tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Alana.

“Apa itu Alana?”.  Tanyaku mempertegas ketidak mengertianku.

“Ini tanda perjanjian kita semua, ayo berikan kelingkinmu, Caesar, Susan, apa kalian tidak pernah melakukan ini waktu kecil dulu?, ini dilakukan oleh semua anak-anak, tapi  perjanjian  seperti  ini  akan  lebih  aman,  ayo lakukan  saja,  tidak  ada  ruginya  kok”.

“Baiklah,  mulai  sekarang  kita  berempat  berteman,  begitu kan?”.  Aku mengacungkan kelingkingku begitu juga dengan Caesar dan Susan.

“Aku  berasa  kembali  menjadi  anak-anak”.

Caesar  tertawa  menatap  Lana,  dan  pada  akhirnya  kami  semua  tertawa,  entah  apa  yang  kami  tertawakan,  aneh  juga  rasanya,  tapi  suasana  seperti  ini  sangat membuatku  nyaman.

Kami  terus  bermain  dengan  beberapa  pertanyaan  konyol  dan  jawaban  konyol  juga,  Lana  dan  Susan  sudah  mendapatkan  coretan  di  wajah  mereka  masing-masing,  tidak  perduli  mereka  menjawab  benar  atau  salah  yang  penting  wajah  mereka  juga  harus  di  lukis  dengan  arang,  sangat  menyenangkan.

“Aku,  lapar…”.

Tiba-tiba  Lana  berujar  dengan  memegang  perutnya,  uh  aku  benar-benar  lupa,  biasanya  aku  selalu  membawakan  makanan  untuk  Lana,  ini  gara-gara  Caesar  sampai  aku  melupakan  makanan  untuk  Lana.

“Tuggu  sebentar,  aku  akan  membelikannya..”.  Aku  bangkit  dan  melangkah.

“Leon,  hujan  sangat  deras  di  luar,  dan  ini  sudah  malam,  aku  akan  melihat  apa  nenek  memiliki  makanan  di  dapur”.

Caesar  menghentikan  langkahku,  dia  beranjak  menuju  ruangan  lain,  nenek,  dia  bilang  nenek,  nenek  siapa?  setauku  nenek  kami  sudah  lama  meninggal,  dan  nenek  dari  ibunya  juga  sudah  tidak  ada,  aneh.

Lana  dan  Susan  bangkit  mengikuti  Caesar,  akhirnya  akupun  bergabung,  kami  berempat  berada  di  sebuah  dapur  yang  luas  dan  bersih,  deretan  kompor  gas,  piring-piring  bersih,  dan  perlengkapan  dapur  lainnya  terlihat  rapi,  dapur  ini  terawat  dengan  sangat  baik.

Susan  membuka  lemari  pendingin  yang  besar,  dan  saat  itu  Alana  mendekali dan  langsung  mengambil  mie  instan,  sawi  hijau,  bawang  merah,  cabe  rawit  hijau,  dan  telur.

“Aku  mau  memasak  ini”.

Alana  berkata  dengan  yakin.

“Apa  kamu  bisa?”.

Caesar  menatap  Alana  seperti  tidak  percaya.

“Tentu  bisa,  ini  makanan  wajib  bagi  pendaki  gunung  dan  anak-anak  kos  yang  kehabisan  uang  jajan  di  akhir  bulan,  kadang  di  pertengahan  bulan  juga  uang  mereka  sudah  habis”.

Lana  mulai  mempersiapkan  bahan-bahannya.

“Kalau  begitu  buatkan  untuk  empat  porsi,  aku  juga  lapar,  dingin-dingin  begini  sangat  enak  makan  sesuatu  yang  hangat,  malam  ini  kami  bergantung  padamu  Lana,  oya  padamu  juga  Susan”.

Aku  berkata  dan  keluar  meninggalkan  Lana  dan  Susan,  Caesar  mengikutiku  dari  belakang,  kami  kambali  keruang  tengah  tempat  tadi  kami  berkumpul  dan  bermain,  Caesar  terlihat  canggung,  dan  aku  juga  sedikit  canggung.

“Ehm,,  tadi  kau  bilang  nenek,  nenek  siapa  yah?”.  aku  mulai  bertanya  untuk  membuang  kekakuan  ini.

“Oooh  itu,   nenek  Ijah,  apa  kau  lupa?”.

“Nenek  Ijah,  ooo   pengasuhmu  itu?,  ya  ampun  aku  tidak  menyangka  dia  berumur  panjang”.

“Ya,  dia  masih  sehat,  ingatannya  juga  bagus,  tapi  kakinya  sudah  tidak  bisa  bergerak  lagi,  jadi  nenek  harus  berada  di  kursi  roda  terus,  dia  juga  tidak  punya  siapa-siapa  lagi,  makanya  mama  dan  papaku  membiarkan  nenek  di sini  di  rawat  oleh  beberapa  pembantu,  sekalian  agar  Villa  ini  terawat”.

“Aku  mengerti..”.

“Kenapa  kau  sangat  mencemaskan  Alana  bersamaku  tadi,  kau  juga  mengancamku,  apa  aku  seburuk  itu  di  matamu?”.

Caesar  mulai  memberondongku  dengan  pertanyaannya,  dan  aku  tercekat.

“Apa  aku  harus  menjawabnya  juga?”.

“Kau  lupa,  tadi  kita  sudah  berjanji  untuk  menjadi  teman  yang  baik,  jadi  jawablah  biar  tidak  ada  kesalah  pahaman  di  antara  kita”.

“Itu  kan  perjanjian  anak-anak,  lagian  kita  hanya  berteman  di  depan  Alana  saja  kan?”.

“Seperti  itu  kah?,  apa  kau  tidak  lelah  dengan  perang  dingin  di  antara  kita?, sedari  kita  kecil,  apa  tidak  ada  sedikitpun  di  hatimu  terbersit  untuk  kita  bisa  gencatan  senjata  dan  berdamai?”.

“Caesar,  sejujurnya  malam  ini  aku  sangat  merasakan  bahagia, jujur  saja  untuk  pertama  kali  aku  merasakan  memiliki  seorang  saudara”.

“Aku  juga,  tapi  aku  penasaran  dengan  jawaban  dari  pertanyaanku  tadi,  jawablah..”.

“Aku  mengenal  Alana  dua  tahun  lebih,  dia  sangat  naif,  bisa  menangis  sesenggukan  di  depan  tv  menonton  drama  korea,  dia  tidak  punya  teman,  langkahnya  hanya  berkisar  rumah  kontrakannya  dan  toko  kue  tantenya itu,  jadi  aku  benar-benar  khawatir  ketika  melihat  fotomu  dengan  dia,  … aku  takut..”.

“Takut  apa?,  kau  pikir  aku  segila  itu,  dia  juga  tidak  senaif  itu,  tadi  dia  juga  berpikiran  sama  seperti  kamu,  dia  cukup  tau  dengan  kondisi  sekitarnya,  sepertinya  dia  belajar  banyak  dari  drama  korea  itu,  jadi  kau  tidak  perlu  mencemaskannya”.

“Benarkah?,  huf  aku  benar-benar  lega”.

“Mulai  sekarang,  aku  yang  akan  menjaga  Alana,  kau  fokus  saja  pada  Susan,  bisa  kan?”.

“Ehmm,  aku  belum  bisa  melepaskannya”.

“Sepertinya  kau  masih  mau  bersaing  denganku …”.

“Wahhh   ruangan  ini  bisa  sehangat  ini,  seperti  ada  api  unggun  di  sini,  ayo  kita  makan,  mie  rebus  sudah  siap”.

Tiba-tiba  saja  Alana  dan  Susan  masuk,  mereka  mendengar  sedikit  pembicaraan  panas  kami,  sampai-sampai  Lana  memberikan  kata-kata  sindiran,  hampir  saja.

Akhirnya  kami  kembali  bersama  menikmati  mie  rebus  bikinan  Alana,  kehangatan  ini  dan  kebahagiaan  ini  benar-benar  memberikan  warna  yang  berbeda  antara  hubungan  aku  dan  Caesar,  Alana  membawa  gelombang  yang  besar  tapi  dia  juga  memberikan  angin  segar  kapada  kami,  Alana  menginginkan  kami  berteman  padahal  itu  mustahil  untuk  bisa  kami  lakukan,  mungkin  pertemanan  rahasia,  pertemanan  di  depan  Alana,  untuk  pertama  kalinya  kami  bisa  duduk  bersama  bergembira  dan  tertawa  bersama,  semua  karena  Alana.

Hujan   di  awal  November,  meredam  api  kebencian  dan  kobaran  amarah,  semoga  saja  hari-hari  esok  tetap  segar  dan  dingin.

 

Jakarta, 20  November  2015

Love  By  November

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s