8. pelangi di matamu


Ketika mimpi malam membangunkan aku dari tidur yang panjang, kau hadir dengan senyumanmu, tapi hanya sesaat setelah itu berganti dengan sosok yang lama ku buang jauh, aku risau, apa yang terjadi dengan diriku. Aku mencoba untuk memahami apa yang terjadi akhir-akhir ini, tapi semakin di pikirkan aku semakin tidak mengerti, semua mengalir tak terkendali. Malam bawa aku jauh dari semua kekacauan ini, aku merasa hidupku menjadi sangat rumit, aku ingin pergi jauh dan jauh.

Kejadian beberapa hari yang lalu membuat aku mulai meragukan keberadaan Caesar, dia berbuat curang, dan aku tidak bisa menerima itu. Perasaan ini berkecamuk dalam dadaku, rasa suka dan perasaan dikhianati berlomba untuk mendapatkan posisi pertama,ini membuat aku bingung. Apa aku boleh mengabaikan kesalahan dia hanya karena aku menyukainya, kalau itu terjadi aku sudah tidak adil terhadap Leon, orang yang selama dua tahun ini selalu menemaniku, tidak ada yang spesial di antara kami, tapi dia adalah temanku, dan aku tidak bisa membiarkan dia terluka, sekalipun oleh orang yang aku sukai.

Sepertinya Alam mendengar keresahan hatiku, di saat libur tanpa sengaja aku bertemu lagi dengan Caesar, mata besarnya menatap aku tanpa berkedip, tak ada kata, tapi langkahnya terhenti tepat di depanku.

“Hei, apa aku seperti hantu?, “. Aku melotot membalas tatapan Caesar.

“Hehe, iya, eh maksudku bukan, aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi”.

“Ya, aku juga tidak, ku pikir tadinya aku tidak akan pernah bertemu lagi denganmu, ternyata perkiraanku salah”.

“Lalu, apa sebaiknya kita pergi ke tujuan masing-masing dan menganggap kalau kita tidak pernah bertemu?”.

“Tunggu, aku mau bicara denganmu, itu kalau kau ada waktu”.

“Sebenarnya aku sangat sibuk hari ini, tapi kalau kau memaksa ya sudahlah, aku terpaksa, ayo kita jalan”.

“Hei, siapa yang memaksamu?, lepaskan tanganku, aku bisa jalan sendiri “.

Dia berjalan dan terus tersenyum setiap kali dia menatapku, Caesar terlihat sangat santai seperti tidak pernah terjadi apa-apa, dia membawaku kesebuah cafe, siang yang panas membuat dia tidak ingin duduk santai di taman seperti beberapa orang yang tetap asik di sana.

“Bicaralah, apa yang mau kau bicarakan?, aku sangat sibuk, aku tidak punya waktu banyak”.

“Apa, kau bilang sibuk, tapi kau malah membawaku ke tempat ini, aku tidak melihat orang sibuk di sini, semua terlihat santai,minum dan makan dengan tenang, harusnya kita bicara saja sambil jalan,tidak perlu datang ke sini”.

“Hei, kau sudah membuang waktuku terlalu banyak, ayo habiskan makanan dan minumanmu, dan bicaralah yang jelas, jangan membuat aku terlalu keras berfikir, aku sudah cukup lelah dengan materi kuliahku yang menumpuk, kau mengerti?”.

“Baiklah, aku langsung pada pokok permasalahannya, kau kemaren sudah berlaku curang terhadap Leon, dan aku tidak suka itu”.

“Hoho, kita membicarakan soal itu?, di mana letak curangnya?, Susan sangat mencintai Leon, sedangkan Leon terus saja menempel padamu, dan kau menjadi bulan-bulanan Susan, bagi Susan kaulah penjahat utamanya, lalu aku tidak sengaja menemukan Ponsel itu, dan terjadilah hal seperti kemaren, aku hanya membuat Susan membuka matanya kalau bukan kamu yang mengejar Leon, dan aku penyelamatmu, harusnya kau ucapkan terimakasih,bukan menyalahkan aku dan mengatakan aku berbuat curang”.

“Iya, aku ucapkan terimakasih, tapi tetap saja aku tidak suka caramu mempermalukan Leon di depanku, seandainya kau di posisi Leon,bagaimana perasaanmu?”.

“Aku tidak mengerti denganmu, hal itu biasa terjadi di manapun, kapanpun, dan terhadap siapapun, kenapa kau terlalu memperbesarkan masalah itu?”.

“Tetap saja aku tidak bisa menerima hal seperti itu, sekarang kau menjebak Leon,besok-besok bisa saja kau menjebak aku, dan kau akan tertawa lepas dengan semua kebodohan korbanmu, seperti itu kan?”.

“Sepertinya kau menempatkan aku di posisi orang terkejam di dunia, apa itu yang ada di pikiranmu?”.

“Saat ini iya, seperti itu posisimu bagiku, dan aku tidak nyaman dengan itu”.

“Kau menyukai Leon?”.

“Tidak”.

“Tidak?, tapi kau membelanya mati-matian, kau menyukai Leon kan, ayo sadarlah, sebentar lagi dia akan menikah dengan Susan, kau akan terluka”.

“Apa aku membela orang yang selama dua tahun berteman denganku itu artinya aku menyukai dia?, apa aku tidak boleh membela temanku?, dan kau tidak perlu khawatir aku akan terluka,karena hal itu sudah pernah aku alami, aku sudah berusaha untuk tidak terluka lagi,sekalipun aku merasakan sakit, ini tidak akan sesakit yang pernah aku alami”.

“Kau bicara terlalu cepat dan terlalu banyak, itu membuat aku pusing”.

“Terserah kau, aku sudah katakan semuanya, aku tidak bisa mengulanginya lagi dari awal, aku lupa”.

“Hoho, begitu rupanya, kau lupa dengan apa yang sudah kau katakan,baiklah, aku akan berusaha mengingat semuanya, dan aku akan berusaha untuk memahaminya”.

“Baiklah, aku sudah selesai bicara, makanan dan minumanku sudah habis,sekarang aku mau pergi, terimakasih untuk makan siangnya”.

“Hei, tunggu dulu, duduklah dengan santai, aku belum selesai,makananku masih banyak, tadi kau sendiri yang tidak suka dengan orang yang mempermalukan temannya, sekarang kau sendiri mau mempermalukan aku”.

“Apa?, aku mempermalukanmu?, bagaimana bisa?”.

“Makanya duduklah tenang di situ, coba kamu perhatikan ke sekeliling kita, semuanya masuk bersama pasangan mereka, makan dengan mesra,dan pulang juga dengan mesra, kalau kau pergi duluan sedangkan aku tetap di sini sendiri, mereka bisa berpikir kalau kita habis bertengkar hebat dan kau memutuskan aku begitu saja, kau mencampakkan aku, harga diriku mau di tarok di mana?, tolong sebentar lagi tetaplah di tempatmu, aku akan sangat berterimakasih padamu,ok?”.

“Kau akan minta maaf pada Leon?”.

“Haruskah begitu?”,

“Kalau kau tidak mau, tidak masalah, aku pergi sekarang”.

“Aduhhh ni cewek keras kepala ya,baiklah aku akan minta maaf pada Leon”.

“Di depanku dan di depan Susan”.

“Iya, diamlah, aku tidak bisa menikmati makan siangku, berkat kamu hantu di siang bolong, acaraku jadi berantakan”.

“Kau….”.

“Sttttt, diamlah”.

Dia menaikan telunjuknya, dengan sangat tenang dia makan dan minum, tidak terlihat seperti orang sibuk, huh benar-benar pintar memutar balikkan kata-kata, tapi suasana yang nyaman ini membuat aku sedikit mengantuk, Caesar seperti sebuah tontonan yang menarik bagiku, mataku tidak sekalipun berpaling darinya, aku benar-benar sudah gila.

Aku pikir kami akan segera berpisah menuju tujuan masing-masing, ternyata aku salah lagi, dia menarikku masuk ke dalam mobilnya, lalu kami pergi ke arah Bogor, dan anehnya aku hanya diam, mungkin karena kekenyangan membuat kantukku semakin berat,dan keinginan untuk berdebatpun hilang lenyap. Seperti berada dalam ayunan yang melenakan, ternyata menjadi orang kaya itu enak ya, pantas saja semua orang rebutan untuk menjadi orang kaya.

Entah berapa lama perjalanan ini aku tidak tau, aku tertidur sangat nyenyak sampai ketika Caesar membangunkanku dengan suaranya yang berisik seperti angin ribut, sangat menggangguku.

“Hei tukang tidur, bangunlah, kita sudah sampai”.

Untuk kesekian kalinya lelaki ini meneriaki ku tidak sabar, dan anehnya mata ini sangat sulit untuk dibuka, ketika perlahan aku menangkap pemandangan sekitarku, kami berhenti di sebuah pekarangan rumah yang cukup besar dan mewah, aku seperti di sengat lebah, mataku mendadak terbuka lebar, aku ingat kisah dalam film horor atau drama Korea, mereka membawa perempuan ke suatu tempat, dan ….

“Kau, kau membawa aku ke mana?, tempat apa ini?, aku tidak mau turun, bawa aku kembali ke Jakarta, kembalikan aku ke tempat tadi”.

“Kau mimpi di siang bolong ya, kau pikir aku membawamu ke mana?, kau pikir aku tertarik padamu?, otakmu benar-benar kotor”.

Caesar melotot ke arahku, dia berbalik memarahiku, dia turun tidak memperdulikanku.

“Caesar, tunggu kau tidak bisa meninggalkan aku sendiri”.

“Terserah, kalau tidak mau turun tidur saja di situ”.

Huf, dia benar-benar kejam, walaupun pemandangan di sini sangat indah tapi aku tetap ngeri untuk di tinggal sendirian, aku tidak punya pilihan, aku turun dan berlari mengejar Caesar.

Kami berjalan mengitari halaman yang luas dan asri di penuhi banyak tanaman hijau, terawat dengan sangat rapi, akhirnya kami sampai di beranda yang tak kalah luas, tertata dengan rapi dan sangat bersih, di sana duduk seorang nenek, tersenyum ke pada Caesar, senyuman yang hangat dan penuh kasih.

“Kau terlambat Caesar?”.

“Nenek, maafkan aku, gara-gara perempuan ini, aku jadi terlambat menemuimu, dia juga memaksaku untuk mengajaknya ke sini nek, aku hampir gila karena dia”.

Caesar duduk dan mencium tangan nenek itu, mungkin ini neneknya, mereka terlihat sangat akrab, tapi aku dijadikan objek penyebab dia terlabat sampai ke tempat ini, aku di dakwa terhadap kesalahan yang tidak pernah aku lakukan, aku meringis, mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Caesar. Nenek menatapku dan tersenyum lembut, aku tidak mampu membela diriku sendiri di hadapan sang nenek, aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum kecut.

“Lihat nek, bahkan dia menuduhku membawanya ke tempat yang menakutkan, dia pikir aku tertarik padanya, nenek bisa lihatkan kalau dia bukan tipeku, tidak ada yang bagus pada dia, rambutnya kriwil, kulitnya hitam, hidungnya cuman secomot, aduh nek, dia benar-benar keterlaluan”.

“Iya, nenek tau, dia tentu mengacaukan pikiranmu kan?, ayo kenalkan dia pada nenek”.

“Hei, perkenalkan dirimu pada nenekku, jangan berdiri saja di situ seperti tiang listrik”.

“Eh, maaf nek, aku Alana, panggil Lana saja nek, aku tinggal di Tebet Jakarta nek, aku bekerja di …”.

“Sudah, sudah, nenekku bisa ketiduran mendengar ocehanmu, kita masuk ke dalam saja, ayo nek, di sini dingin, nanti nenek masuk angin”.

Caesar memotong perkenalan diriku, dia mendorong kursi roda nenek masuk ke ruang dalam, ruangan yang besar, aku tidak bisa memaparkan satu persatu, ini benar-benar seperti dalam istana, aku mencubit tanganku, rasa sakit menyadarkanku bahwa ini bukan mimpi, waw.

Kami berhenti di sebuah ruangan yang lebih hangat, ada beberepa set sofa yang besar, karpet indah yang besar dan tebal terbentang, aku sangat ingin membaringkan tubuhku di sana, sepertinya sangat hangat dan nyaman untuk di tiduri, uh pikiranku hanya tidur saja, sepertinya aku memang wanita aneh. Di atas meja terdapat makanan kecil dan minuman, juga buah segar yang sangat menggiurkan, tiba-tiba saja aku merasa sangat berselera, mereka sangat menggoda dan meminta untuk aku nikmati satu persatu, uh Lana sadarlah, ya ampun aku seperti tersesat dalam mimpi yang indah, tempat yang nyaman untuk tidur beserta memiliki banyak makanan, sempurna sekali hidupku …

“Nek, lihat perempuan ini sangat kelaparan ya nek”.

“Lana, ayo ke sini, duduk di sini, silahkan di makan, ambil saja mana yang kamu suka, ayo”.

Aku tersipu malu pada nenek yang memergokiku berdiri terpana menatap makanan yang banyak itu, uhhhh sumpah aku benar-benar malu, aku ingin menyembunyikan wajahku ke mana saja agar tak terlihat, perlahan aku menghampiri nenek dan duduk di sebelahnya.

“Nek, maafkan aku, aku baru pertama kali datang ke tempat seperti ini, selama ini aku melihat istana begini lewat film dan drama saja”.

“Iya, nenek mengerti, Caesar juga baru pertama kali membawa gadis ke rumah ini, biasanya dia selalu datang sendiri, tapi sekarang dia membawamu ke sini”.

“Aku sudah dewasa nek, aku sudah kuliah”.

“Hmm, nenek senang bisa melihat mu tumbuh sampai sebesar ini, dulu nenek selalu berfikir apa bisa melihatmu tumbuh besar, apa nenek bisa melihat pernikahanmu dan menimang anakmu”.

“Tenang saja nek, nenek masih sehat, tentu nenek bisa menghadiri pernikahanku kelak”.

“Caesar, hati-hati dengan hatimu, jangan sampai terluka, nenek sudah terlalu banyak melihat luka dan kesedihan, selama ini hanya sedikit sekali kegembiraan, keluargamu memilih mahkota yang berat, kau harus mampu memikulnya, kau harus tau itu”.

“Aku tau nek, sekalipun kebahagiaan ini hanya semu dan sesaat tapi aku berhak merasakannya kan nek, aku hampir terlambat menyadari kalau masa mudaku sudah terlewatkan begitu banyak, lewat begitu saja tanpa aku merasakan apa-apa”.

“Kamu bukan robot, hiduplah dengan bahagia, sebelum kau menerima mahkota itu di kepalamu, kelak untuk tersenyumpun kau sudah tidak mampu”.

“Nenek, aku kesepian”.

Tiba-tiba saja aku seperti berada di sebuah negeri yang jauh, sepi, dingin dan mengerikan, tubuhku tiba-tiba saja menggigil, aku kedinginan, nenek dan Caesar membuat aku ingin menangis, aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya hatiku sangat terluka dan aku merasakan darah menetes dari luka itu, aku sakit.

Aku tinggalkan mereka berdua dalam kemesraan, sepertinya mereka sangat memendam rindu karena lama tidak bertemu, mungkin saat ini mereka membutuhkan waktu berdua saja tanpa aku.

Aku berjalan menyusuri ruang demi ruang, banyak sekali ruangan besar, perabotnya juga bagus dan tertata rapi, sampai akhirnya aku berada di ruang yang penuh alat musik, satu persatu aku hampiri dan tanganku gatal untuk sekedar mencolek, organ besar itu menghasilkan suara yang membuat aku bergidik, ruangan besar dan kosong dengan dentingan tuts organ akan membuat pikiran orang bergentayangan ke mana-mana, huff.

“Sssttt..”.

“Heiii, kau membuat aku kaget”.

“Tapi wajahmu seperti ketakutan”.

“Aku kaget”.

“Kamu takut”.

“Ayo kita nyanyikan sebuah lagu, kamu bisa main gitar?”.

“Aku?, megangnya saja belum pernah”.

“Oh aku lupa, kamu tidak bisa apa-apa, kecuali tidur dan makan”.

“Kamu..”.

“Tidak boleh memukul, karena kamu berada di daerah kekuasaanku, aku tinggalkan di sini, kamu tidak akan pernah bisa kembali ke rumah mu lagi”.

“Kamu bisanya mengancam orang yang lemah”.

“Sudah tau lemah, harusnya berlaku sopanlah”.

Aku hanya diam menatap Caesar yang sangat berlaku semena-mena pada ku hari ini, dia mengambil sebuah gitar dan duduk di bangku yang tinggi, nada-nada indah mengalun dengan lembut, dan aku sangat menyukai moment ini, lelaki ini menyihirku dengan permainan gitarnya yang memukau, dia menatapku dengan lembut, dan mulai menyanyikan sebuah lagu.

kan ku abaikan sgala hasratkuĀ  agar kaupun tenang dengannya

ku pertaruhkan semua ragaku demi dirimu bintang

biarkan ku menggapaimu, memelukmu, memanjakanmu

tidurlah kau di pelukku, di pelukku, di pelukku

biar ku tunda sgala hasratku tuk miliki dirimu

karna semua tlah tersiratkan dirimu kan milikku

biarkan ku menggapaimu, memelukmu, memanjakanmu

tidurlah kau di pelukku, di pelukku, di pelukku

hingga kau mimpikan aku, mimpikan kita,mimpikan kita

jangan pernah kau terjaga dari tidurmu di pelukanku, pelukanku

Nyanyian itu berakhir, tapi sihir itu masih tetap membuat aku tak berdaya, sepertinya aku terseret semakin jauh, aku tersesat dan tak tau jalan untuk kembali, aku sesak nafas, sepertinya duniaku tidak lagi menyediakan oksigen yang cukup untukku, aku benar-benar dalam keadaan yang membutuhkan pertolongan, Leon, tolong aku, help me please.

Jakarta 19 Oktober 2015

Love by November

2 pemikiran pada “8. pelangi di matamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s