10. tetap dalam jiwa


Waktu berlalu begitu cepat, rasanya baru kemaren kami berkumpul tertawa bersama, bermain bersama, saling ledek, saling tuding, dan pada akhirnya saling tersenyum penuh damai. Ingin sekali aku kembali ke masa itu, disaat kami berempat menikmati mie rebus buatan aku dan Susan, malam dingin dan hujan, sesekali kilat menyambar dan guntur bersahutan, tapi kami tetap meringkuk saling merapat mengusir dingin dan rasa takut. Sekarang semua itu tinggal kenangan, yang hanya bisa diingat, tapi tak bisa di ulang. Baca lebih lanjut

8. pelangi di matamu


Ketika mimpi malam membangunkan aku dari tidur yang panjang, kau hadir dengan senyumanmu, tapi hanya sesaat setelah itu berganti dengan sosok yang lama ku buang jauh, aku risau, apa yang terjadi dengan diriku. Aku mencoba untuk memahami apa yang terjadi akhir-akhir ini, tapi semakin di pikirkan aku semakin tidak mengerti, semua mengalir tak terkendali. Malam bawa aku jauh dari semua kekacauan ini, aku merasa hidupku menjadi sangat rumit, aku ingin pergi jauh dan jauh.

Baca lebih lanjut

7 . aku benci kamu caesar


Tiba-tiba saja Susan gadis gila itu menghentikan langkahku menuju toko kue tempat aku bekerja, dan aku tidak kuasa menolak ketika dia menarik tanganku menuju Taman Kota. Masih pagi Taman Kota ramai dipenuhi oleh pengunjung yang sedang berolah raga,kebetulan ini hari libur, dan memang setiap hari libur tempat ini menjadi sangat ramai.

“Kenapa?, kau pikir aku merindukanmu?, aku mau bicara dengan kamu mengenai Leon”.

Susan  menatapku tajam dan mulai bicara dengan nada yang tidak menyenangkan, huh apa seperti ini semua gadis kaya itu?, berlaku sesuka dia tanpa memperdulikan orang lain nyaman atau tidak, entahlah.

“Kamu dengar baik-baik jangan sampai aku mengulangi kata-kataku, aku mencintai Leon, hubungan kami sudah direstui oleh keluarga kami, sebentar lagi kami akan tunangan, dan setelah Leon merampungkan Kuliahnya, bekerja di Perusahaan Papanya,kami akan menikah”.

Gadis itu tersenyum puas menatapku, dia pikir kata-katanya akan membuat aku memahami apa yang dia inginkan, justru aku semakin tidak mengerti, apa hubungannya dengan aku, dan setauku Leon mendalami Ilmu Hukum, itu tidak sejalur dengan Perusahaan Papanya, ah apa perduliku. Baca lebih lanjut

hadiah tak terduga


Perjalananku kali ini ke Bandung bersama Papa membuat aku lelah, aku suka dengan kota yang sejuk ini, setidaknya kebisingan Jakarta tidak terlihat di sini, seharian mengikuti Papa benar-benar membuat aku tidak nyaman. Dari kecil aku sudah di perkenalkan kepada semua keluarga, itu menurutku hal yang memang seharusnya aku lakukan, mengenal keluarga besar Papa dan keluarga besar Mama, berkenalan dengan semua saudara sepupu dan bermain dengan mereka itu juga menjadi rutinitas semenjak kecil, aku masih menikmati dengan kegembiraan, masih mengasikkan bagiku. Semakin ke sini, ketika aku beranjak remaja, Papa mulai mengajak aku kepertemuan rekan kerjanya, aku mulai di kenalkan kepada orang-orang yang menatapku penuh selidik, aku mulai merasa tatapan aneh dan senyuman yang terasa aneh juga, aku mulai merasa tidak nyaman. Sekarang aku semakin tidak nyaman, ketika kehadiranku membuat beberapa orang merasa terancam, mereka berbisik dan menatapku penuh selidik, senyuman mereka mulai kaku, sumpah aku benar-benar merasa berada di sebuah dunia yang sangat asing, aku berdiri mematung di tengah mereka yang penuh dengan kepura-puraan.

Baca lebih lanjut

selingkuh


Menjelang sore aku sampai di kontrakanku, sepanjang jalan aku melamun, langkahku seakan melayang, hari ini teramat panjang bagiku, rentetan kejadian yang membuat hatiku meletup-letup tak beraturan. Caesar cinta pertamaku tiba-tiba saja kembali, semenjak dua minggu yang lalu dia hadir, setiap hari dia datang ke toko kue tempat aku bekerja, dan dia selalu meminta agar aku yang melayani. Rudi dan Alex kedua temannya yang dari dulu sudah aku kenal, dan aku juga yakin mereka sangat akrab dengan wajahku, anehnya mereka bertiga hanya duduk manis menikmati hidangan yang setiap hari berganti model dan rasa, mereka hanya menatapku, tak ada kata, kadang aku melirik mereka di sela pekerjaanku melayani tamu lain, dan seringkali mataku bertabrakan dengan mata mereka bertiga, menurutku itu suatu hal yang aneh, apa mereka datang untuk menemuiku?, uhh siapa aku?, aku bukan siapa-siapa, mana mungkin mereka datang untuk melihatku. Baca lebih lanjut