10. tetap dalam jiwa


Waktu berlalu begitu cepat, rasanya baru kemaren kami berkumpul tertawa bersama, bermain bersama, saling ledek, saling tuding, dan pada akhirnya saling tersenyum penuh damai. Ingin sekali aku kembali ke masa itu, disaat kami berempat menikmati mie rebus buatan aku dan Susan, malam dingin dan hujan, sesekali kilat menyambar dan guntur bersahutan, tapi kami tetap meringkuk saling merapat mengusir dingin dan rasa takut. Sekarang semua itu tinggal kenangan, yang hanya bisa diingat, tapi tak bisa di ulang.

Mengapa aku ingin merasakan lagi kebersamaan itu?, yah alasan kuat adalah karena aku baru pertama kali merasakan keasyikan berkumpul bersama teman seperti itu, selama hidup yang telah aku lewati hanya berkutat antara diriku, ibu, tante Anisa, beberapa teman di  sekolah dulu, beberapa teman di tempat kerjaku sekarang, kami semua tidak pernah berlibur seperti itu, tepatnya aku tidak pernah punya kesempatan untuk itu. Menyedihkan untuk mengurai masa lalu yang sangat kusut, tapi membuat aku berusaha untuk kembali mengingat apakah aku sesedih itu, sehingga pergi berlibur saja tidak pernah. Uhh, sudahlah tidak  ada  untungnya  mengungkit  ketidak  indahnya  hidupku  dulu.

Terus,  mengapa  aku  sangat  yakin  bahwa  kebersamaan  kami  di  Puncak  itu  tidak  akan  pernah  terulang.  Itu  karena  benda  yang  saat  ini  bertengger  di  tanganku,  tepatnya  aku  memegang  benda  ini,  benda  yang  membuat  aku  tidak  tau  harus  berbuat  apa,  harus  bagaimana,  aku  bingung.

 

Pagi  ini  Leon  datang,  memegang  tanganku  dan  meletakkan  benda  ini,  Yah  sebuah  undangan  yang  indah,  warna  coklat  bertahtakan  lukisan  warna  emas,  lembaran  di  dalamnya  berisikan  foto  sepasang  muda  mudi  yang  sedang  menikmati  alam  terbuka  di  sebuah  taman  bunga,  pemuda  yang  tampan  tersenyum  memikat,  dan  si  wanitanya  tersenyum  lebar  penuh  bahagia,  nama  Leon  terukir  indah  bersanding  dengan  nama  Susan.  Lama  sekali  aku  terpaku  menatap  hamparan  itu,  sampai  aku  lupa  kalau  Leon  masih  berdiri  menatapku.

“Hei,  apa  aku  tidak  di  persilahkan  duduk?,  atau  aku  harus  segera  pulang  saja?”.

Suara  Leon  mengagetkan  aku,  dan  aku  duduk  tanpa  mempersilahkan  dia,  akhirnya  dia  ikut  duduk  di  sampingku, dan  tatapannya  tetap  lurus  kepadaku.

“Kenapa?, apa  ada  yang  salah?,  itu  undangan  Susan  yang  mengurus  semuanya  aku tidak  ikut  mengurusnya, aku  sibuk  dengan  kuliahku”.

“Ini  undangannya  sangat  bagus,  Leon,  selamat  yah, akhirnya  kalian  sampai  juga  pada  saat  yang  bahagia  ini”.

“Lana,  aku  harus  pergi  sekarang,  aku  harus  kekampus   dan  ke  kantor  Papa,  oya  aku  sudah  menghubungi  Caesar  untuk  menemanimu,  sebentar  lagi  dia  sampai”.

Aku  diam,  menatap  Leon  dengan  tatapan  yang  aku  tidak  tau  artinya,  Leon  juga  menatapku,  banyak  sekali  cerita  yang  ingin  dia  luahkan  seperti  biasanya,  tapi  dia  tak  menyampaikannya,  seperti  aku  yang  merasa  kerongkonganku  tercekat  tiba-tiba,  tidak  bisa  berkata  sepatah  katapun,  aku  merasa  ada  sesuatu  yang  ingin  keluar,  tapi  aku  tahan,  aku  tidak  mau  Leon  melihatnya,  aku  tetap  duduk  diam  di  tempatku,  sampai  akhirnya  Leon  pergi  dan  menghilang.

Ketika  aku  sudah  yakin  bahwa  diriku  benar-benar  sendiri,  sesak  didadaku  mulai  keluar,  aku  terisak  dan  tangis  ini  tiba-tiba  saja  pecah  tak  bisa  aku  kendalikan,  air mataku  mengalir  deras  seperti  hujan  yang  turun  tak  terbendung,  aku  menangis  dan terus  saja  menangis,  menutup  wajahku  dengan  bantal  kursi  yang  warnanya  sudah  memudar.

Ketika  bapak  dan  Ibu  pergi  jauh  meninggalkan  aku,  aku  juga  menangis  rasanya  sama  senelangsa  ini,  waktu  aku  tau  aku  tidak  bisa  bertemu  dengan  Caesar  setamat  dari  sekolah  dulu  aku  juga  menangis,  tapi  entah  kenapa  saat  ini  hatiku  benar-benar  sedih,  sedih  sekali,  aku  tidak  tau  kenapa.

Entah  berapa  lama  aku  menangis,  untung  aku  sudah  menjauhkan  undangan  itu,  bagaimanapun  juga  aku  tidak  mau  undangan  yang  bagus  itu  rusak  terkena  air  mataku.

Sampai  akhirnya  aku  merasakan  lega  di  hatiku,  dan  kembali  mengambil  undangan  itu  dan  mematutnya lama.

“Hei,  menangisnya  udahan  segitu  saja?,  kalau  mau  lagi  aku  bisa  meminjamkan  bahuku  untukmu,  mumpung  lagi  nganggur”.

Tiba-tiba  saja Caesar  sudah  berdiri  di  pintu,  entah  sudah  berapa  lama,  dia  duduk  dan  matanya  berputar  menatap  sekeliling  rumah  kontrakan  ku  ini

“Jadi  ini  rumahmu,  jelek  sekali”.

“Bukan  rumahku,  ini  kontrakanku,  aku  belum  punya  rumah”.

Jawabku  ketus,  itu  salah  satu  sifat  Caesar  yang  sangat  bertolak  belakang  dari  Leon,  Caesar  sombong  angkuh  dan  tidak  bisa  menyembunyikannya,  dia  spontan  mengeluarkan  apa  saja  yang  ada  di  pikirannya.

“Ya,  aku  mengerti,  kerja  sampai  ratusan  tahunpun  kamu  tidak  akan  sanggup  membeli  rumah  yang  bagus,  tapi  aku  ada  tawaran  untukmu,  bagaimana  kalau  kau  menikah  dengan  aku,  kau  akan  mendapatkan  rumah  bagus,  mobil  mewah,  uang  banyak,  kau  akan  menjadi  Ratu  di  Istanaku kau  akan  …”.

“Tidak,  aku  tidak  akan  sudi  menjadi  istrimu”.

“Hei  kamu  sombong  sekali,  aku  memberikan  penawaran  yang  bagus  tapi  kau  menolaknya,  ini  undangan  Lelaki  yang  kau  sukai,  dia  sudah  akan  menikah,  kau  tidak  punya  calon  lelaki  kaya  lagi  selain  aku,  pikirkan”.

Caesar  merenggut  undangan  dari  tanganku  dan  melemparnya  ke  lantai,  serta  merta  aku  bangkit  dan  mengambil  lagi  undangan  itu.

“Kau  yang  sombong,  ini  undangan  yang bagus,  kau  tidak  bisa  membuangnya  begitu  saja”.

“Sayang,  aku  janji  undangan  pernikahan  kita  nanti  akan  jauh  lebih  bagus  dari  itu,  kau  tidak  usah  khawatir,  aku  pastikan  undangan  kita  lebih lebih  bagussss..”.

“Dasar  kau  gila,  siapa  juga  yang  mau  menikah  dengan  anak  manja  seperti  kamu,  rumah  mewah  juga  papa  kamu  yang  punya,  mobil  mewah  papa  kamu  yang  beli,  kuliah  saja  masih  papa  kamu  yang  bayar,  yang  kau  pamerkan  itu  semua  milik  papa  kamu,  kalau  tidak  ada  papa  kamu  kau  bukan  siapa-siapa,  bahkan  kau  lebih  gembel  dari  aku”.

“Mulut  kamu  kelewatan  sekali  yah,  iya semua  itu  harta papaku,  tapi  kan  aku anaknya,  jadi aku berhak dong  memakai  semua  yang diberikan padaku, aku ahli waris papaku, aku berhak”.

“Yah,kamu berhak selama kamu mengikuti aturan dari papa kamu. Aturan keluarga besar kamu, …”.

“Tunggu, sepertinya aku tau kemana arah pembicaraan kamu, kamu mau bilang kalo aku juga akan dijodohkan sama seperti Leon dan Susan, ya .. seperti itulah aturan tidak tertulis di keluarga kami, kenapa ? , kamu risau dengan hal itu?”.

“Tidak, untuk apa aku risau, bukan urusanku”.

“Kamu itu pembohong kelas berat yah, semuanya kamu tutupi, kamu pendam, makanya badan kamu jadi kurus, itu lihat tulang di bawah leher kamu semakin menonjol, kenapa sih tidak jujur aja, dulu kau bilang tidak mencintai Leon, tapi hari ini kau menangisi undangan Leon, apa itu namanya, atau semua perempuan seperti kamu, di depan bilang enggak, tapi orangnya pergi nangissss,,, capek ngadepin kamu”.

“Kalau capek pergi sana, pulang ke rumah kamu yang bagus, aku juga tidak minta kamu ke sini”.

“Kamu memang tidak minta, tapi lelaki yang sangat menyayangi kamu itu yang memintaku untuk menemani kamu di sini”.

“Kamu membuat aku kesal..”.

“Kamu pikir aku senang lihat kamu menangisi undangan jelek itu?, buang undangan itu, lupakan dia, mulai sekarang aku yang akan menjaga kamu..”.

“Dengan apa kamu menjagaku, dengan harta papa kamu?”.

“Mulai lagi, kalau kamu merasa keberatan dengan harta papaku, baiklah, setelah kita menikah nanti, kamu yang kerja, aku akan tinggal di rumah jelek ini bersamamu, dan kamu yang akan menghidupi aku, masalah selesaikan”.

Aku diam dan tidak mau komentar apa-apa lagi, percuma bicara dengan orang gila ini tidak akan pernah selesai.

“Ayo kita pergi sekarang”.

Caesar bangkit menarik tanganku, dia membawaku masuk ke mobilnya, dan kami pergi membelah Jakarta, aku diam dan terus saja diam, hatiku masih sedih dengan undangan Leon, aku tidak perduli kemana Caesar membawaku pergi, aku biarkan dia sesuka hatinya, dan hatikupun mengembara jauh entah ke mana.

Kami berhenti di sebuah restoran, Caesar memang selalu memilih segala hal yang levelnya jauh di atasku, kadang aku berfikir tidak akan pernah bisa mengimbangi kebiasaannya itu, hanya satu hal yang aku tidak bisa pungkiri, yaitu perasaanku padanya tetap sama tidak berubah, aku tetap saja menyukai dia.

Makanan beraneka macam memenuhi meja kami, Caesar menikmati makanannya dengan lahap, sesekali dia menatapku, tapi dia diam membiarkan aku tetap tak menyentuh makananku, aku lapar tapi aku tak berselera, entahlah.

“Kelak, ketika aku menikah dengan wanita lain, apa kamu juga akan sefrustasi ini?”.

Mulai lagi, dia selalu mengganggu pikiranku, bukannya menenangkan, menghibur, tapi malah memperkeruh suasana.

“Kalau kamu menikah dengan wanita lain, aku akan bunuh diri, ..”

Jawabku  asal, apa tanggapan dia, aku penasaran juga ingin mengerjai dia.

“Mmm, keren juga, aku bisa membanggakannya kepada Leon, hei Leon dulu waktu kamu menikahi Susan, Alana hanya nangis doank, tapi lihat sekarang, ketika aku menikah dengan wanita lain, Alana bunuh diri, itu satu bukti kalau aku pemenangnya, kau kalah”.

“Apa, jadi yang ada di otakmu dari tadi itu adalah tentang persainganmu dengan Leon?, kau tidak perduli dengan perasaanku?, hatiku?”.

“Ya,itu dia …”.

Air mataku kembali jatuh menetes di pipiku, tapi aku tidak mau jadi orang bodoh, aku mengambil piring yang dari tadi tergeletak, aku isi dengan sedikit nasi, aku ambil ayam bakar, ikan goreng, sate kambing, udang goreng, semua menumpuk di atas piringku, dengan air mata yang terus saja menetes aku mulai menikmati makananku, biasanya di saat hatiku sedih, Leon selalu datang dengan makanan, dan kami makan bersama sampai semua makanan habis, itu membuat tangisku semakin tak terbendung, aku terus menangis tapi aku juga terus makan.

“Sayang, makan kamu banyak sekali, jangan semuanya, nanti uangku tidak cukup membayarnya”.

Aku tidak menjawabnya,  aku sibuk mengunyah makananku.

“Baiklah, makan saja terus, boleh nambah kok, tenang saja”

Caesar membiarkanku makan sepuasnya, dia hanya menatap dan tidak berkomentar lagi.

Kami lama saling diam menatap jauh ke depan  di dalam mobil yang masih diam di parkiran.

“Sayang…”.

“Namaku Alana bukan sayang..”

“Cinta..”

“Alana..”

“Terserahlah hei kamu mau aku antar ke mana lagi”.

“Pulang..”.

“Masih siang jangan pulang dulu lah”.

Aku  tidak  perduli  Caesar  mau  membawaku  ke  mana,  aku  duduk  dengan  posisi yang  santai  dan  mataku  mulai  terpejam,  aku  membiarkan  kantuk  ini  menyerangku,  aku  masih  mendengar  ocehan  Caesar  yang  kian  lama  kian  lenyap.

“Lana,  sebenarnya  aku  tidak  tega  melihatmu  seperti  ini,  aku  cemburu,  kau  menangisi  pernikahan  Leon  dan  Susan,  padahal  berkali-kali  aku  tanya  tentang  perasaanmu  pada  dia,  kau  selalu  menjawab  kalau  kau  dan  dia  hanya  berteman  biasa  saja,  tapi  hari  ini  tangismu  mengatakan  lain,  kau  tau  bagaimana  sakitnya  di  hatiku, sembunyikan  perasaanmu  itu,  kalau  tidak  aku  akan  terus  menyakitimu, bisakan  sayang..,  dulu  aku  selalu  berfikir,  apa  yang  menyebabkan  Leon  begitu  manyayangi  kamu,  ternyata  hari  ini  aku  tau  jawabannya,  bahkan  Leon  rela  membiarkan  dirinya  sendiri  tersiksa,  tapi  dia  tidak  rela  membiarkanmu  sendiri  dengan  kesedihanmu,  dia  memintaku  untuk  menemanimu  hari  ini,  setelah  dia  mengantarkan  undangan  itu,  sepertinya  dia  tau  kalau  hal  seperti  ini  akan  terjadi,  dan  aku  tidak  bisa  membiarkan  mu  jatuh  dalam  kesedihanmu, …  sayang…”.

Sepenggal  kisah  telah  sempurna  terlewatkan, semoga  hari  yang  berlalu  akan  mengobati  hati  yang  terluka.

 

15  Januari  2016

lovebynovember

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s