hadiah tak terduga


Perjalananku kali ini ke Bandung bersama Papa membuat aku lelah, aku suka dengan kota yang sejuk ini, setidaknya kebisingan Jakarta tidak terlihat di sini, seharian mengikuti Papa benar-benar membuat aku tidak nyaman. Dari kecil aku sudah di perkenalkan kepada semua keluarga, itu menurutku hal yang memang seharusnya aku lakukan, mengenal keluarga besar Papa dan keluarga besar Mama, berkenalan dengan semua saudara sepupu dan bermain dengan mereka itu juga menjadi rutinitas semenjak kecil, aku masih menikmati dengan kegembiraan, masih mengasikkan bagiku. Semakin ke sini, ketika aku beranjak remaja, Papa mulai mengajak aku kepertemuan rekan kerjanya, aku mulai di kenalkan kepada orang-orang yang menatapku penuh selidik, aku mulai merasa tatapan aneh dan senyuman yang terasa aneh juga, aku mulai merasa tidak nyaman. Sekarang aku semakin tidak nyaman, ketika kehadiranku membuat beberapa orang merasa terancam, mereka berbisik dan menatapku penuh selidik, senyuman mereka mulai kaku, sumpah aku benar-benar merasa berada di sebuah dunia yang sangat asing, aku berdiri mematung di tengah mereka yang penuh dengan kepura-puraan.

Setelah semuanya selesai aku baru bisa berlega hati, membaringkan tubuhku yang terasa sangat pegal, kamar hotel yang nyaman dan kesendirian ini begitu sangat aku rindukan sejak berjam-jam yang lalu. Dan Alana menari-nari di pelupuk mataku, sedang apa dia sekarang, sudah sore begini tentu dia sudah bersiap-siap pulang, kecuali tantenya memberikan pekerjaan tambahan pada gadis itu, dia tak pernah membantah apapun yang dikatakan tantenya itu bagi dia adalah perintah, dia sepertinya tidak memiliki keinginan hatinya sendiri, tantenya menyuruh kerja dia kerja, tantenya menyuruh dia ke toko bahan kue dia pergi, yaa dia tidak salah berlaku seperti itu, setidaknya itu yang bisa dia lakukan untuk membalas semua kebaikan tantenya itu. Satu-satunya keluarga yang dia punya semenjak Ayahnya meninggal, seperti itu cerita yang dia bagi padaku, tentang Ibunya, dia katakan sudah pindah ke kota lain mengikuti suami baru, hmm cukup sulit di cerna.

Alana gadis sipencuri hatiku, aku lihat pertama kali ketika dia mengintip seseorang, dia mengikuti seseorang dari jarak yang tidak terlalu dekat, dan aku cukup terkejut melihat siapa yang dia intip, Caesar. Beberapa kali aku memperhatikan gadis itu tetap mengikuti Caesar, dia bertingkah seperti si penguntit, dan anehnya yang diikuti tidak menyadari, atau mungkin bisa dikatakan tidak perduli. Saat itu rasa penasaranku mulai tumbuh, lain ceritanya kalau yang dia ikuti orang lain, mungkin aku tidak perduli, tapi yang dia ikuti adalah seorang Caesar, rasa berperangku mulai muncul saat itu, sehingga pada hari yang aku lupa hari apa itu, aku mengumpulkan keberanianku untuk menegurnya, dan hari itulah kami mulai berkenalan, aku menjadi teman setia yang mendampinginya semenjak hari itu, menjadi pendengar setia dari setiap keluhan hatinya, aku menjadi teman bertengkarnya, aku menjadi teman yang akan dia ajak tertawa ketika dia gembira, dan aku sepertinya menjadi apa saja yang dia inginkan.

Aku melihat Alana menangis di hari terakhir dia pulang dari sekolahnya, dia menangis sedih, aku pikir dia sedih karena nilainya sangat tidak bagus, dia lulus dengan nilai pas-pasan, untuk melanjutkan kuliah aku yakin tidak ada Fakultas yang mau menerima Mahasiswa dengan nilai seperti itu, kecuali tentu Fakultas Swasta dengan biaya selangit, tapi aku pastikan Alana tidak akan mampu untuk itu. Salah, salah besar, ternyata dia menangis karena itu adalah hari terakhir dia melihat Caesar, hari terakhir dia bisa mengikuti Caesar, dan itu adalah hari terakhir dia menjadi penguntit Caesar, banggggggggggg ,,,,, kepalaku seperti terbentur palu yang sangat besar, sakit dan kupingku tiba-tiba saja berdengung seperti mendengar suara ribuan lebah yang terbang mengitari kepalaku, hatiku sakit, sakit sekali, kenyataan itu membuat aku terluka sangat dalam. Alana menjadikan Caesar sebagai alasan mengapa dia bisa pergi sekolah setiap hari, Caesar adalah alasan mengapa dia bisa terus bisa bertahan meskipun dia sangat tidak suka pelajaran apapun , ketika semua anak-anak membaca buku pelajaran dia menjadikan buku itu sebagai bantal, dia tidur di setiap waktu yang dia miliki, itulah mengapa dia disebut si tukang tidur, ketika anak-anak lain asik belajar, dia asik mengikuti Caesar kemanapun dia pergi, dia menjadi bayangan Caesar, tidak salah kalau nilainya jelek semua, tapi Alana tidak pernah perduli dengan nilainya. Caesar bak pangeran yang kaya raya, dengan kegemerlapan gaya hidupnya menjadikan dia bulan yang sangat tinggi, sedangkan Alana hanya gadis biasa, yang tidak sebanding dengan Caesar, itulah mengapa dia dikatakan si Pungguk yang merindukan Bulan, dan lagi-lagi sebutan itu sama sekali tidak menganggunya, sedangkan aku seperti kanvas tempat dia melukiskan apa saja yang dia rasakan, apa saja yang dia alami, dia melukiskannya padaku, aku merupakan kanvas yang diam seribu kata, tapi hatiku menjadi sangat sakit, setiap kali kenyataan demi kenyataan terungkap, dan entah sejak kapan aku menyadari kalau aku mulai menyukainya.

Sedangkan Caesar, aku sudah mengenal dia sejak kecil, ketika aku berusia lima tahun dan Caesar berusia tiga tahun, aku sangat ingat dimana hari ketika kami keluarga besar berkumpul, ketika kakekku mengumpulkan anak cucunya semua, entah ada acara apa saat itu, aku masih terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi. Caesar kecil terjatuh di taman saat bermain dengan saudara-saudara lainnya, kakinya terluka dan Caesar menangis sangat kencang, aku merasa kasihan dan bermaksud membantunya, tapi tanganku di pegang oleh Lando kakakku, Lando menarikku menjauh dan berbisik di telingaku, “Oscar, Caesar mereka adalah musuh, jangan membantu, jangan mendekat, mereka harus di jauhi, ingat baik-baik, Oscar dan Caesar adalah musuh kita”. Lando mengulai kata-katanya beberapa kali, dan tatapan matanya sangat tajam, aku masih merasakan tatapan yang penuh bara dari kakakku itu, sampai saat ini kata-kata itu masih melekat di telingaku, aku tidak paham apa arti kata-kata kakakku itu, tapi aku melihat hubungan keluargaku dan keluarga Caesar memang sepertinya tidak bagus, sekalipun kami bertemu di beberapa acara yang tidak bisa kami hindari, kami bertingkah seolah-olah tidak saling mengenal, kami seperti orang asing, dan saling menjauh, itu berlangsung sampai saat ini, aku tidak mengerti tapi aku menjalani hidup seperti itu.

Lana menjadikan Caesar sebagai alasan dalam hidupnya, itu membuat aku merasa kalah dalam peperangan yang entah kapan dimulainya, aku sangat frustasi dengan kenyataan itu, kenapa gadis ini begitu terobsesinya dengan seorang Caesar, apa kelebihannya, dan itu membuat aku semakin jauh larut dalam kehidupan Alana, aku ingin merebut hati Alana, aku ingin dia menjadikan aku sebagai alasan hidupnya, aku ingin merebut dia dari Caesar, keinginanku terkabul, ketika Alana menangis di hari terakhir dia pulang dari sekolah, itu adalah hari terakhirnya menikmati kebersamaannya dengan Caesar, cinta pertamanya akan segera dia kubur, sebuah kamar di hatinya yang berisi tentang Caesar akan dia kunci dan kuncinya akan dia buang jauh-jauh. Saat itu hatiku berteriak penuh kegembiraan, aku pikir inilah saatnya untuk aku mulai merebut hati Lana, ini adalah kesempatanku.

Hampir dua tahun aku menikmati hari-hariku bersama Alana tanpa sedikitpun terganggu oleh Caesar, aku sangat senang, tapi keberanian untuk mengungkapkan perasaanku kepada Alana tak jua kunjung ada, setiap kali aku memancing pembicaraan tentang itu Alana selalu saja mengacaukannya, seakan-akan dia sudah tidak mau menerima cinta yang lain lagi, aku masih terus maju dengan sejuta impianku, tapi langkahku tersendat ketika Susan datang, gadis ini benar-benar manjadi racun dalam hubunganku dengan Alana, dan aku tidak berdaya, ini adalah racun yang sengaja diberikan oleh keluargaku, setelah kakakku Lando menikah dengan perempuan pilihan keluargaku, sekarang sepertinya giliranku, Lando terlihat sangat tenang, dan dia sangat kuat, tapi aku tau di malam hari dia akan menangis sendiri, dia sangat kesepian, apakah aku kelak juga akan bernasib sama seperti kakakku?.

Hubunganku dengan Lana semakin kacau semenjak kehadiran Caesar, bocah ini membuat tidurku tidak tenang, aku mengutuki kebodohanku yang sudah menyia-nyiakan dua tahun waktuku bersama Lana, waktu yang panjang itu seakan menghilang seperti mimpi, aku benar-benar kehilangan akal sehatku, darahku mendidih setiap kali menatap bola mata Caesar, selama ini setiap kali kami bertemu, kami akan saling menghindar satu sama lain, tapi semenjak kami di pertemukan kembali dalam soal Alana, dia tidak mau menghindar, dan sepertinya aku juga tidak bisa menghindar, kami berdua sama-sama terdiam dalam satu posisi yang entah seperti apa. Mungkinkah kami akan berperang dalam hal cinta, dan bukan berperang dalam soal perusahaan seperti yang terjadi dengan keluarga kami selama ini?, apa boleh seperti ini?, kami memperebutkan sebuah cinta?, entahlah.

Alana, senyumnya tiba-tiba saja menyadarkanku bahwa aku saat ini merindukannya, dia mengembalikan Android yang kemarin aku kasih, tapi aku tidak menerima Android itu, bagiku hanya itu penghubung kami saat ini, biasanya telfon dan SMS, tapi dengan kejadian buruk kemaren aku sepertinya harus berterima kasih pada Susan, HP jadul Alana dihancurkannya dan itu membuat aku mempunyai sebuah alasan untuk memberikan Android yang jauh lebih canggih, aku sudah membuatkan FB atas nama Alana, aku juga membuatkan Instagram untuknya, semoga saja dia bisa senang menerimanya.

Rasa rindu ini menuntunku untuk menghubungi nomor ponsel Alana yang baru, untuk sesaat nada sambung bersenandung, tapi tidak diangkat, sepertinya Alana sedang di kamar mandi, aku tunggu beberapa saat dan aku mulai menghubungi Alana lagi, tetap tak di jawab, ke mana gadis itu, aku mulai tidak sabar.

“Hei, tukang tidur, kenapa ponselmu tidak diangkat?, apa jari-jari tanganmu sedang sakit?”. Aku mulai mengirimkan SMS pertamaku, aku berharap segera mendapat jawaban, mataku nanar menatap ponselku yang satu ini, sepertinya hatiku mulai bergemuruh, otakku mulai berputar berpikir ada apa dengan gadis itu, menyebalkan, sampai 15 menit tetap tidak ada jawaban.

“Alana, sayang, apa kamu ada di sana?, aku merindukanmu,apa kamu juga merindukan aku?”. Aku mulai jail menuliskan pesan singkat di FBnya, aku tidak yakin dia akan membacanya, sedangkan SMS saja dia tidak membaca, tak ada tanda centang di sana, apalagi FB, aku belum mengajari dia cara membuka FBnya, aku mulai berjudi dengan peruntunganku malam ini, kalau memang nasibku baik,maka Alana akan membaca pesan di FB, tapi aku mulai cemas, pesan itu terlalu menjurus, ahhhhh…. sial,, aku terlihat seperti cowok murahan yang begitu gampangnya mengumbar isi hati, duhhh, aku merasa sangat menghinakan diriku sendiri,bodoh,bodoh, aku menjitak kepalaku sendiri, dan sakittttt, tapi mudah-mudahan saja Alana tidak bisa membuka FBnya, sehingga besok aku akan menghapus pesan itu.

Rasa bosan menunggu jawaban dari Alana aku lampiaskan pada layar TV, ada berita tentang kekeringan yang melanda Jakarta akhir-akhir ini, berita pembunuhan sadis seorang wanita oleh teman kencannya, ada perdebatan tentang Pemerintahan yang di tuding banyak pihak mengalami masa gagal, ada juga Drama Serial yang sudah sampai pada episode yang kesekian ratus,aduh kenapa Wanita Indonesia sangat menyukai Drama seperti ini?, apa mereka tidak bosan dengan cerita yang dibuat begitu panjang sampai bertahun-tahun tidak tamat?, tapi tidak semua Wanita Indonesia seperti itu, ada satu orang yang berbeda, yah,, Alana, dia lebih menyukai drama Korea yang hanya sampai 16 episode, paling panjang 20 episode. Hmm, tapi itu mencerminkan dia tidak menyukai produk Negerinya sendiri, uh, kenapa aku mendadak jadi pusing?…

Tinggggg…. suara lembut mengalun dari ponselku, dengan gerakan cepat aku menyambar ponsel itu, aku berpacu dengan waktu, dadaku mendadak bergemuruh…

“Aku belum tidur, aku sedang nonton”.

Alana membalas SMS ku, jawaban yang terlalu singkat, tapi aku tidak perduli, yang penting dia membalasnya, hatiku terasa sangat lega.

“Apa yang kamu tonton?, kaset yang aku belikan tadi pagikan?, jangan sampai kamu nonton kaset jelek kemaren”. Aku membalas dengan cepat, aduhhh, aku menuliskan kata-kata asal lagi, aku benar-benar kehilangan akal sehat. Ketika aku melihat tanda centang di pesan FB yang aku kirimkan kepada Alana, aku mendadak menjadi panas dingin, ternyata dia tidak sebodoh yang aku kira, gadis ini pintar membuka FB yang baru saja aku buatkan untuknya, sial, benar–benar sial, nasibku sangat jelek, huffff.

“Sayang aku juga merindukan kamu, mimpikan aku yaa ..”.

Tiba-tiba saja pesan dari FB Alana masuk, terbaca sangat jelas olehku, berkali-kali aku baca tulisan itu tidak berubah, aku seperti mimpi, sejak kapan si gadis itu bersikap sangat manis seperti ini, aku mulai curiga,janga-jangan…. Bisa saja dia mulai berubah karena Susan, Alana mulai takut kehilanganku karena kehadiran Susan, yah itu benar, aku tidak akan keliru, aku sangat yakin dengan hatiku.

“Sayang,kirimkan foto terbarumu dong, aku benar-benar rindu padamu, dan kamu akan aku bawa ke dalam mimpi indahku malam ini “. Aku mulai mengirimkan pesan baru lagi ke FB Alana, aku benar-benar ingin menatap bola matanya yang besar itu, luar biasa, mata itu sangat dalam sedalam Samudera, aku ingin sekali berenang di sana, uhhh,, aku mulai gila karena gadis ini, akhirnya masa penantianku selama dua tahun berakhir malam ini.

“Sayang, hanya ini yang aku punya, temanku siang tadi yang mengambil foto ini, semoga kamu suka yaa”.

Apa?, foto setengah ?, ini seperti orang lain yang mencuri-curi memotret dia, ah,hasilnya sangat tidak bagus, temannya yang mana?, tapi ya sudahlah,aku harus fokus pada sasaranku,jangan sampai kehilangan arah dan tujuan.

“Terimakasih sayang, foto ini sangat indah, aku suka sekali, oh ya,kamu tau kan kalau sejak lama aku sudah memendam rasa cintaku padamu, bagaimana kalau malam ini aku menyatakan cintaku padamu, biarpun hanya lewat FB tapi tidak masalah kan?, Bandung-Jakarta akan menjadi saksi bisu kita, aku mau kamu menerima cintaku padamu, bagaimana menurutmu sayang ?”. Aku benar-benar mati rasa sesaat setelah pesan itu aku kirimkan, apa Alana menerima cintaku?.

“Tentu saja aku mau sayang, aku sudah menunggu sejak lama, akhirnya malam ini kamu benar-benar mengutarakan isi hatimu padaku, aku mau”.

Ya Tuhan… yes,yes,yes, aku berteriak seperti orang gila, aku melompat ke sana- ke mari,aku benar-benar bahagia, hanya sepenggal kalimat itu saja,aku harus menunggu sampai dua tahun, tapi tidak apa-apa,ini adalah kado terindah untukku, perjalananku ke Bandung tidak sia-sia. Alana, I Love You, tunggu aku pulang sayang.

Jakarta, 16 Agustus 2015

Love by November

Satu pemikiran pada “hadiah tak terduga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s