Angkat Anak, Sebagai Pancingan …


Assalamu’alaikum  Wr..Wb..

 

Anak …  Lagi-lagi  topik  ini  kembali  menggelitik  hati  dan  pikiranku,  yah  tepat  8  November  2012  akhir  tahun  ini  usia  pernikahanku  memasuki  angka  12.  Suatu  angka  yang  cukup  dramatis  dalam  sebuah  pernikahan,  apalagi  ditambah  dengan  embel-embel  tidak  memiliki  anak  sebagai  keturunan.  Banyak  teman  dan  saudaraku  yang  rumah  tangganya  tumbang,  atau  berakhir  dengan  perceraian  dengan  satu  alasan  tidak  memiliki  keturunan,  cukup  menyedihkan …

 

Bukan  berarti  aku  tidak  punya  rintangan  dalam  mengarungi  mahligai  rumahtanggaku,  banyak  bahkan  sangat  banyak  sekali,  tapi  tetap  prinsipku  kalau  memang  hancur,  itu  bukan  karena  alasan  tidak  memiliki  keturunan,  toh  di luar  sana  sudah  memiliki  anak  tetap  mereka  bercerai,  jadi  anak  bukan  satu-satunya  alasan  sebagai  penghacurnya  rumah  tangga.

 

Beberapa  hari  yang  lalu,  seorang  kakak  sepupu  yang  berada  di  seberang  pulau,  tepatnya  Kalimantan,  menghubungiku  dan  bertanya,

“Tani,  kamu  mau  punya  anak  tidak?  kalau  iya,  di  sini  ada  yang  lagi  hamil,  dan  sedang  menunggu  hari  kelahiran,  dan  dia  hanya  meminta  untuk  penggantian  biaya  persalinan  rumah  sakit  saja,  prediksi  dokter  bayi  ini  perempuan,  bla .. bla .. bla …”. (Sebagai  pemancing ..).  Terdengar  suara  kakak  iparku,  tapi  kakak  sepupuku  tidak  mengucapkan  kata-kata  itu,  namun  kata-kata  itu  cukup  jelas  terdengar  olehku.

 

Yah  seperti  itulah,  dan  sampai  saat  ini  aku  masih  belum  memberikan  jawaban.

 

Aku  ingat  awal  April  ketemu  dengan  kakak  sepupu  juga  yang  sudah  menikah  selama  6  tahun,  tapi  belum  mendapatkan  keturunan  juga,  waktu  itu  aku  sempat  menanyakan  pendapatnya  tentang  mengangkat  anak  sebagai  pemancing,  dan  aku  cukup  terkesima  dengan  jawabannya.

 

“Usiaku  masih  cukup  muda,  dan  dokter  bilang  aku  masih  bisa  hamil,  kalau  angkat  anak  itu  nanti  setelah  semua  usaha  dicoba  dan  tidak  membuahkan  hasil,  dengan  kata  lain  angkat  anak  adalah  pilihan  terakhir,  namun  niatnya  bukan  sebagai  pemancing  melainkan  benar-benar  untuk  dijadikan  anak,  kita  akan  jaga  dan  pelihara  dia  sebagai  anak  sendiri,  kalau  niatnya  sebagai  pemancing,  kasihan  ketika  kita  melahirkan  anak  sendiri,  anak  angkat  akan  dibedakan”.

 

Jawaban  ini  luar  biasa  membuka  mata  hatiku,  dan  cukup  berpengaruh  besar  dalam  pandangan  hidupku.

 

Sekitar  tiga  tahun  lalu,  aku  pernah  ditawari  anak  oleh  teman  kerjaku,  dan  sama  waktu  itu  hanya  minta  2  juta  Rupiah  sebagai  pengganti  biaya  persalinan,  namun  aku  tidak  mau  ambil  dengan  beberapa  alasan  :

1.  Bayi  ini  ibunya  Islam,  tapi  tidak  ketahuan  siapa  ayahnya.

2.  Bayi  ini  laki-laki,  suamiku  maunya  perempuan.

3.  Ketika  aku  minta  pendapat  kakak  sepupu,  anak  yang  tidak  ketahuan  ayahnya  siapa,  ibarat  membesarkan  anak  ular,  kata  lainnya  tidak  bagus.

 

Namun  sekitar  dua  bulan  lalu,  aku  kenal  seorang  perempuan  muda  yang  jebolan  Pesantren,  dan  ketika  aku  tanyakan  hal  ini,  jawabannya  sungguh  diluar  dugaanku,

 

“Tante,  anak  hasil  pacaran  atau  anak  haram,  kalau  kita  ambil  dan  besarkan  dengan  penuh  kasih  sayang,  insyaallah  akan  mengantarkan  kita  kepintu  sorga,  dan  do’a  anak  seperti  inilah  yang  diijabah  oleh  Allah  SWT.  Beruntung  sekali  tante  kalau  bisa  mengambil  anak  seperti  ini,  karena  anak  itu  suci  tidak  bernoda ..”.

 

Jawaban  adek  iparku  dengan  pertanyaan  yang  sama :

 

“Anak  itu  ibarat  kertas  putih,  kita  yang  menulisnya,  dia  akan  ikuti  ajaran  orang  tua  yang  membesarkannya,  bukan  orang  tua  yang  melahirkannya,  jadi  sekalipun  dia  terlahir  dari  perbuatan  orang  tuanya  yang  salah,  si  anak  tidak  menanggung  dosa  orang  tuanya  dan  si  anak  tidak  akan  mengikuti  perbuatan  orang  yang  melahirkannya,  melainnya  mengikuti  didikan  orang  yang  membesarkannya”.

 

Pandangan  suami :

 

“Anak  yang  lahir  dari  pasangan  suami  istri  yang  sah  dan  tidak  mampu,  anak  ini  seperti  sengaja  dibuang  atau  dijual  karena  ketidakmampuan  mereka  dalam  ekonomi,  tapi  anak  yang  lahir  dari  akibat  pergaulan  bebas,  adalah  anak  yang  benar-benar  tidak  diinginkan,  baik  oleh  ibunya  ataupun  keluarganya,  jadi  anak  seperti  inilah  yang  layak  kita  kasihani ..”.

 

Beberapa  pandangan  yang  aku  dapat,  dan  sampai  saat  ini  masih  dalam  pikiran,  tapi  aku  tetap  mengembalikan  semuanya  kepada  pemilik  kehidupan,  kebahagiaan  hidup  tidak  terletak  pada  harta  anak  dan  sebagainya,  tujuan  menikah  juga  bukan  untuk  mendapatkan  keturunan  saja,  bahkan  ibunda  Rabi’ah  memilih  untuk  tidak  menikah  dalam  hidupnya,  jadi  kenapa  kita  harus  pusing  dengan  satu  urusan  yang  sudah  ada  jalurnya.

 

Aku  bebaskan  diriku  dari  hujatan  dan  kritikan  pedas  orang-orang  yang  tidak  mengenal  aku, hanya   aku  yang  tau  hidupku, hanya  aku  yang  mengerti  dari  setiap  tetes  air  mataku,  dan  aku  menggapai  bahagiaku  sendiri,  menikmati  kesendirian  ditengah  keramaian …

 

Salam  sukses …

 

Fitr4y

 

 

 

 

12 pemikiran pada “Angkat Anak, Sebagai Pancingan …

  1. Cantik sekali penuturan Anda. Begitu dalam…
    Pasti kalau suatu saat nanti Anda berkenan membesarkan seorang anak, dengan segala kasih sayang yang Anda & suami miliki, dengan cara didik yang tepat & lingkungan yg harmonis, ia kelak akan berbudi pekerti luhur seperti Anda. Insya Allah. Aamiiin.

    • Terimakasih banyak saya ucapkan kepada MBAH JENGGOT atas bantuannya yg telah memberikan saya anka jitunya yaitu (2425) dan alhamdulillah berhasil,berkat bantuan MBAH saya sudah bisa melunasi semua hutang2 saya di BANK BRI bahkan saya juga sudah punya modal usaha sendiri sekali lagi makasih yaa MBAH,anda mau bukti bukan kata2 silahkan hubungi (0852=9982=9111)MBAH JENGGOT,nomor ritual MBAH JENGGOT memang tidak ada duany*!!*<!!*<

  2. Asslaamu’alaikum wr.wb, Fitray sayang…

    Bunda rasa terharu dan menetes air mata membaca pelbagai pendapat yang diutarakan di atas. Tambah mengesan lagi luahan hati Fitray sendiri. Menambah kepiluan di hati bunda. banyak kebenaran dari semua pendapat yang diutakan di atas.

    Anak adalah insan yang dititip Allah buat mereka yang ditentukan rahimnya. Siapapun yang melahirkannya, bagaimana keadaan lahirnya dan kenapa dia dilahirkan demikian, bukan menjadi penghalang untuk kita memeliharanya. Banyak anak yang dididik oleh ibu angkatnya menjadi anak yang soleh dan solehah daripada didikan keluarga kandungnya sendiri.

    Terserah kepada Fitray kerana jika hati belum terbuka untuk mengambil anak angkat, lebih baik beralah dulu sehingga hati berasa lega dan lapang setelah berdoa dan memohon kekuatan dari Allah.

    Bunda setuju, jangan mengikut kata orang yang mungkin menista kita dari belakang. Kita sahaja yang tahu kehidupan kita dan apa yang kita mampu lakukan. Semoga Allah mengurniakan anak sendiri buat Fitray. Berkat sabar, pasti ada nikmat di penghujungnya. Siti Sarah (isteri Nabi Ibrahim) mendapat anak di usia 86 tahun. Bunda akan selalu mendoakan kebahagiaan Fitray dan suami hingga ke akhirat. Aamiin.

    Salam rindu dan sayang selalu dari bunda di Sarikei, Sarawak.😀

  3. Sebelum menikah saya sempat komunikasi dengan calon istri, seandainya kita tidak punya anak, mari kita mengangkat anak, utamakan dulu dari pihak keluarga kalau tidak mari cari tempat lain…puji syukur kami memiliki anak…

    Kalau sudah mantap dilanjutkan saja programnya mbak…kami sekeluarga mendoakan yang terbaik buat mbak dan keluarga

  4. Saya pernah baca (sepintas) soal adopsi anak dalam Al-Quran, saya lupa tepatnya di surah apa.. tapi intinya melarang dengan keras mengadopsi anak, ini soal warisan orangtua, soal muhrim atau tidak, soal pernikahannya kelak, dan beberapa hal penting lainnya… Bayangkan jika seorang ibu membesarkan anak laki-laki, saat besarnya bagaimana? apakah si ibu adalah muhrim si anak (bisa bersentuhan)?? atau bagaimana soal perwalian nikah anak perempuan?? Kesimpulan saya setelah membacanya, adopsi dilarang namun “memelihara” anak (yatim dan atau piatu) sangat dianjurkan…

    Salam sukses, semoga diberkahi anak saleh/salehah, kelak… saya juga belum diberi Allah SWT, smoga segera diberi juga…

  5. ya sabar mba,
    walaupun pernikahan ku belum selama mba…tapi ak sudah ingin ambil anak angkat, ak merasa sakit saat di sindir saudara ,org lain ..aku pikir apa salah dan dosa ku, semoga kita bisa sharing dan di beri kesabaran oleh allah swt..amien

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s