pelayan toko roti


Tidak terlalu sulit untuk menemukan alamat yang di kasih Susan, daerah Tebet di pinggir jalan, dari luar terlihat seperti cafe, tapi setelah masuk ternyata bakery, ada tempat duduk juga, ini pas banget untuk nongkrong. Rudi dan Alex sangat semangat waktu pertama kali aku ajak ke sana, ke dua dan ke tiga kali masih semangat, tapi untuk selanjutnya, mereka mulai bosan, Rudi teriak kalau dia masih orang Indonesia yang makan siangnya butuh nasi, tetap tak tergantikan oleh roti, walau seenak apapun roti itu, dan Alex ikut-ikutan cemberut saat aku ajak lagi ke toko roti itu, mereka benar-benar bosan dan memilih berpisah dariku saat jam makan siang.😀

Lalu, bagaimana dengan alasan mengapa aku sampai berada di toko roti itu, ya si pelayan , dia alasan utamanya, aku sempat berdebat dengan Rudi dan Alex, aku berkata pada mereka, “Kalau memang aku cinta pertamanya, mengapa sekarang dia berubah membayangi Leon?, itu benar-benar tidak setia namanya, hanya segitu saja kemampuan dia untuk mempertahankan cinta pertamanya?”. Aku berbicara dengan nada yang tidak suka.

Rudi : “Itu salahmu, dia membayangimu selama lima tahun, tapi kau tidak perduli, jadi wajar dia berpaling, dan pilihannya itu membuat aku berdecak kagum, menurutku dia sangat cerdas, buktinya dari seorang Caesar dia berpaling kepada Leon, waw pilihan yang sangat cerdas”. Temanku yang keren ini terlihat bersinar dan senyumnya benar-benar menandakan kalau dia tidak berbohong.

Alex : “Ya, aku setuju dengan Rudi, sudah sangat kuat dia menderita menjadi si pungguk selama lima tahun, kalau aku mungkin dalam waktu satu bulan aku sudah berpaling ke pada orang lain, jadi sekarang kau adalah penjahat utamanya Caesar, dia tidak bersalah, dia berhenti membayangimu saat kita tamat Sekolah, kita Kuliah dan dia bekerja, jadi sudah tidak ada alasan dia untuk mengikutimu terus kan?, aku sungguh kagum pada dia, pilihan keduanya semakin tinggi levelnya”. Alex tertawa senang.

Aku menjadi muak melihat kedua temanku tidak berpihak padaku, mereka malah memuji si pungguk itu, dan jelas sekali mereka berdua memandang seorang Leon lebih tinggi dibanding aku, ini membuat aku frustasi, Leon sepertinya kau mengajak aku berperang, dan aku  mulai tertantang.

Pertama kali kami berkunjung ke toko roti itu, kami sudah melihat gadis pelayan itu, kami bertiga menikmati makan siang kami di sana tentu saja sambil melirik gadis itu, beberapa kali mata kami bertabrakan, aku menatap dia pas ketika dia juga menatapku, sepertinya dia ingat denganku, tapi aku, masih belum bisa mengingatnya. Soal wajah aku kasih dia nilai tujuh dari total sepuluh, soal penampilan nilainya enam, bodypun nilainya enam, tidak menarik sama sekali, cuma kenapa seorang Leon bisa tertarik pada dia, Susan mengatakan Leon menyukai pelayan ini, itu suatu hal yang aneh menurutku, aku masih butuh bukti untuk itu, apakah si pelayan yang menyukai Leon atau Leon yang menyukai pelayan , aku harus membuktikannya, dan itu alasanku untuk datang terus ke toko itu setiap hari pas jam makan siang.

Beberapa kali aku sempat bertemu dengan Leon di toko itu, Leon datang dan duduk dengan santai, sepertinya dia sudah biasa berkunjung ke toko itu, dan aku maupun Leon bertingkah seolah-olah tidak saling mengenal, Rudi dan Alex sempat menyikutku, mereka berdua memintaku untuk menegur Leon, tapi untuk apa, tidak ada gunanya, jadi aku hanya lewat dengan sikap cuek seperti tidak ada apa-apa.

Dan hari ini aku kembali ke toko roti ini, sendiri tanpa Rudi dan Alex, mereka sudah tidak sanggup makan roti lagi denganku, jadilah aku pengunjung yang duduk sendirian. aku menikmati makananku dengan santai, aku masih belum punya keberanian untuk menegur gadis yang bernama Alana itu, diapun sepertinya berusaha untuk pura-pura tidak mengenalku, yah aku bisa terima, mungkin saja bagi dia aku adalah masa lalunya, baiklah aku terima alasan itu sekarang, untuk kali ini aku bisa mengalah. Rudi sempat menertawakanku, dua minggu aku habiskan waktu siangku di sini, tapi aku belum melakukan pergerakan apapun, dan Alex malah mencemaskan aku sebagai lelaki, dia bilang sebenarnya aku ini tidak pandai mendekati wanita, karna selama ini justru wanita yang datang padaku, hehehe sepertinya Alex benar, aku belum pernah mengejar wanita, tapi aku sudah terlalu sering meninggalkan mereka, sudah tidak bisa kuhitung lagi dengan jari, sepertinya butuh kalkulator untuk menghitungnya. Tapi aku sendiri bingung, alasanku sebenarnya apa?, tidak mungkin aku tertarik dengan dia, tidak bisa juga aku datang karena menerima tawaran dari Susan, alasan lainnya karena Leon, bagiku Leon adalah sainganku dalam segala hal, termasuk wanita, apa itu alasannya mengapa aku ada di sini?, apa aku terluka ketika mengetahui gadis yang menjatuhkan cinta pertamanya padaku, sekarang berpaling kepada Leon, ya kenapa harus Leon, kalau saja dia memilih orang lain aku bisa pergi melenggang dengan tenang meninggalkan dia, tapi karena lelaki itu adalah Leon, itulah sebabnya aku tetap diam di sini, menunggu dan menunggu, entah apa yang aku tunggu, rasanya jiwa petualangku kembali bergelora, sudah sangat lama ini tidak terjadi, aku sangat ingin berperang, setiap pagi aku bersemangat memikirkan apa yang akan terjadi antara aku dan Leon.

Setelah dua minggu, penantianku sepertinya akan berakhir, atau ini baru di mulai, ketika Susan datang dengan langkah sombongnya, memanggil si pelayan keluar menemuinya, entah apa yang mereka bicarakan sepertinya Susan sangat marah, dia merebut HP yang ada di tangan Alana, melihatnya sekilas dan membantingnya, HP kecil itu hancur berantakan. Toko tidak terlalu ramai, pengunjung yang cuma beberapa orang sempat memperhatikan kejadian itu, sampai akhirnya Leon datang menarik Susan, tapi Susan bertahan tidak mau pergi, Alana kembali masuk, dan saat itulah aku teriak padanya meminta  kopi panas. Alana menatapku sesaat dan setengah berlari masuk ke dalam, sesaat kemudian dia kembali dengan secangkir kopi di tangannya, dia terlihat tidak fokus, sesekali matanya masih melirik keluar, ketempat Susan dan Leon yang sedang berdebat dengan penuh emosi. Alana terlihat cemas, sedih, dan malu, entah apa lagi yang tersirat di wajah itu, dan wajah itu membuat aku tersentuh, sepertinya aku kasihan, wajah itu mengundang rasa kasihan yang ada di sudut ruang hatiku yang paling dalam, yang selama ini tak pernah ada rasa seperti ini dalam hidupku, aku yakin sekali rasa ini belum pernah ada sebelumnya.

Langkah tergesa-gesa, dan seribu macam rasa yang tergambar di wajah Alana, membuat dia oleng, kakinya terantuk sesuatu, dan sialnya kopi itu tumpah membasahi pakaianku, ou panasnya luar biasa, kaos putihku langsung berobah warna menjadi gelap kotor, aku berdiri dan berteriak marah menatap Alana yang menunduk ketakutan, dia meminta maaf dan berusaha membersihkan pakaianku, tapi bagiku itu belum cukup, aku tarik tangannya dan membawanya pergi.

“Hei, kau mau membawa karyawanku kemana?”. Teriak seorang wanita yang aku yakin dia lah bosnya.

“Bos, dia mengotori pakaianku, dia harus membersihkan pakaianku dulu, aku bawa dia sebentar”. Kataku dan melangkah pergi melewati Susan dan Leon, Leon menatapku dengan tatapan yang entah apa maksudnya, sepertinya dia ingin menghentikanku, tapi dia tidak melakukannya karena ada Susan, dengan tatapan aneh dia terus memandangi kepergianku dengan Alana, satu kosong untukmu Leon.

Aku terus menarik tangan Alana, aku mendengar dia mulai menangis, aku tidak perduli, aku membawanya ke pusat perbelanjaan, aku memilih pakaian untukku, sedangkan Alana terhenti di sederatan kaset-kaset VCD, entah apa yang dia cari, aku biarkan dia memandangi semuanya, sepertinya kaset-kaset itu membuat dia lupa pada kesedihannya yang barusan, setelah dia sadar aku berdiri menatapnya dia datang tanpa satupun kaset di tangannya, aku kembali menariknya dan membawa dia kepada sederatan  kaset yang dia pandangi tadi, aku menyuruhnya memilih, dan satu pilhan jatuh pada setumpuk kaset yang isinya mungkin ada enam atau tujuh keping, dasar wanita, tontonannya seperti itu, pantas saja mereka cuma bisa menangis dan menangis.😀

Dari pusat perbelanjaan aku menariknya lagi, akhirnya kami sampai di taman kota ini, tempat bersantai penduduk sekitar, tempat berlalu lalang orang-orang, tempat nongkrong juga bagi sebagian karyawan, mungkin ada pelajar juga, Alana duduk di sampingku, wajahnya tertunduk menatapi kaset yang aku belikan untuknya, dan dia masih saja menangis, tangisnya hanya terhenti di saat memandangi sedertan kaset di toko tadi saja, dan setelah itu tangisnya kembali melantun, sepanjang jalan aku di pandangi oleh orang-orang, sepertinya mereka ingin tau apa yang terjadi, tapi aku membalasi mereka dengan senyumanku yang aku yakin sangat manis, setidaknya mereka sudah mendapatkan senyuman gratis dari si tampan ini :D  .

“Hei, apa kamu akan menangis sampai malam?, kau tidak lihat tadi orang-orang menatapku?, mereka menatapku seolah-olah aku ini orang yang baru saja menyiksa pacarnya, apa kau tidak malu?”.

Alana menatapku sesaat, tapi setelah itu tangisnya kembali meledak bahkan semakin kencang, hoho aku benar-benar pusing menghadapi makhluk yang seperti ini, perjalanan pertamaku dengan dia sungguh jauh dari kata romantis.

“Kau pikir kau terlihat cantik saat menangis?, kalau begitu lanjutkan tangismu, aku akan diam menunggu sampai kau selesai menangis”. Aku duduk berdiam diri, mendengar tangisannya yang kadang reda dan sesaat kemudian mengencang lagi, orang-orang yang lewatpun masih terus memperhatikan kami, tapi aku tidak perduli, sungguh sore yang indah, duduk di taman dengan musik tangisan seorang gadis pelayan toko roti.

Jakarta 24 April

Love by November

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s