11. teruslah melangkah. tamat


Perdebatan panjang antara hati dan keinginan, tak pernah selesai dan tak pernah menemukan titik temu. Ketika pikiranku ingin ke sana, tapi hatiku enggan melangkah, hatiku berkata iya, tapi pikiranku berkata tidak. Begitu terus hingga aku lelah, bimbang dan galau sepanjang hari.

 

Satu kepastian sudah di ambang mata, Leonku segera menikah dengan Susan, jangan ditanya betapa remuknya hati ini, bukannya tak rela, aku benar-benar rela, dan aku senang, akhirnya Leon mendapatkan pendamping hidup. Tapi entah kenapa hati ini begitu sedih, seakan otakku sudah memproklamirkan bahwa aku akan kehilangan seorang teman yang baik, dan itu cukup membuat hati ini bersedih.

Hari-hari terakhir aku seperti berjalan dalam mimpi, seakan menunggu waktu eksekusi, bahkan tante Anisa dan teman-temanku di toko kue sudah mengeluarkan semua kemampuan mereka untuk menghiburku, tapi tetap saja wajah ini murung tanpa senyum. Suasana di sekitarku mendadak berubah menjadi sendu, aku tak ingin seperti itu, tapi aku tak berdaya.

Akhirnya tante Anisa mengingatkan aku pada beberapa surat ibu yang disimpannya.

“Sepertinya kamu membutuhkan semua ini sekarang..”.

Surat-surat itu kubawa pulang dan kubaca satu persatu, isinya menanyakan tentang keadaanku, bercerita tentang kerinduan ibu padaku, bercerita tentang hidupnya di sana yang mulai bagus. Perlahan airmata ku mengalir, dan bayangan ibu muncul di pelupuk mataku.

Dulu aku begitu angkuh dan membenci ibu, bahkan aku sempat menuduh ibu membunuh ayah. Tapi ibu hanya diam dan terisak menangis, dia pergi dengan ayah tiriku. Aku pikir aku tidak akan pernah membutuhkan ibu lagi, aku pikir aku bisa hidup sendiri tanpa ibu, ternyata aku salah, saat ini aku memikirkan ibu, aku merindukan ibu, sepertinya keresahan ini hanya ibu yang bisa menyembuhkannya.

Dengan suara bergetar aku menghubungi tante Anisa, bagaimanapun juga beliau yang menemaniku beberapa tahun terakhir, dia menjadi pengganti ayah dan ibu bagiku.

“Tante, ini aku Alana..”

“Iya, tante hapal suara kamu, ada apa malam-malam begini telfon?, kamu sakit”.

“Tidak tante, aku mau minta pendapat tante, bagaimana menurut tante kalau aku mengunjungi ibu..”.

“Itu bagus, pergilah temui ibumu, dia sudah begitu lama menunggumu”.

“Bagaimana  dengan tante, kalau aku tidak kembali,,,”.

“Tidak usah mengkhawatirkan tante, kan udah gede, lagian di sini ada teman-teman kamu yang lain, Rika, Susi, Indri, mereka semua akan membantu tante, yang penting kamu tenang dan kembali gembira seperti dulu”.

“Makasih tante, besok pagi aku berangkat, tante jaga diri ya”.

“Lana, besok pagi apa itu tidak terlalu cepat?, apa kamu tidak mau pamitan dengan Leon dan Caesar?”.

“Aku pikir nanti saja pamitannya tante, di perjalanan, kalau sekarang pamit aku takut mereka akan menghalangi, aku tidak mau tante”.

“Ya sudah, terserah kamu saja mana baiknya, hati-hati di sana, titip salam dari tante buat ibumu, sering-sering telfon tante yah, tante pasti akan merindukanmu”.

“Iya tante, aku juga bakal kangen terus sama tante..”.

Aku akhiri berpamitan dengan tante, dan segera mengambil pakaianku memasukkannya ke dalam tas ranselku, tidak banyak hanya secukupnya saja, aku tidak mau langkahku nanti terbebani dengan bawaan yang berat, surat ibu aku simpan dan ada satu yang aku kantongi, surat ibu yang berisi alamat tempat ibu tinggal sekarang.

Aku tau tante akan merapikan barang-barangku nanti. Besok pagi-pagi sekali aku akan berpamitan pada pemilik kontrakan, aku harap semua berjalan lancar tidak ada halangan.

******

Alarm ponselku berbunyi nyaring membangunkan aku dari mimpiku, rasa kantuk membuat aku malas untuk bangun, tapi sesuatu hal memaksaku untuk segera bangun, yaa aku harus segera berangkat. Aku bangkit dan mengambil handuk setengah berlari menuju kamar mandi, dingin sekali, ternyata di luar sana hujan sedang mengguyur bumi, pantas saja hawanya sedingin ini, tapi aku terus bergerak, aku tidak perduli hujan atau badai aku harus berangkat.

Setelah aku siap, kusandang tas ransel di punggungku, sekali lagi aku menatap kamarku, banyak kenangan yang tertinggal di sini, kenanganku bersama Leon, ah sudahlah, aku tutup pintu kamar dan menuju ke pintu luar, pintu yang benar-benar akan mengubah takdirku.

Ketika pintu terbuka langkahku terhenti, dadaku berdegup kencang, Leon dan Caesar sudah bersender di dinding menghindari percikan hujan yang semakin deras.

“Lama sekali kamu, aku kedinginan”.

Leon menyeruak masuk diikuti oleh Caesar, mereka mengibaskan pakaian mereka yang terkena hujan, sepertinya mereka sudah cukup lama berada di luar.

“Kalian, ngapain di sini pagi-pagi begini..”.

Tanyaku setelah rasa kagetku bisa aku kendalikan.

“Tante Anisa bilang kamu akan berangkat pagi ini, aku mengantar kamu ke terminal, lagian hujan begini naik angkot susah”.

Leon menjelaskan alasannya berada di rumahku sepagi ini, dan Caesar terlihat garuk-garuk kepala, sepertinya dia sedang berfikir, mungkin memikirkan jawaban untukku kalau aku bertanya.

“Dan kamuuu..”

“Mmm, entahlah  aku bingung mau ngapain, tapi aku merasa heran saja, kenapa kamu mau pergi dengan cara seperti ini, tanpa pamit pada kami, apa perasaanmu sehancur itu, sehingga harus menghilang”.

Kata-kata Caesar menohok jantungku, dia langsung membuat aku terdiam, wajahku mendadak terasa panas, aku malu, kalau memang itu sebab kepergianku kali ini.

“Tidak, bukan seperti itu, nanti aku juga bakal pamit pada kalian..”.

“Nanti kapan?, sepertinya kamu mau kabur beneran”.

“Sudahlah Caesar, aku yakin Lana punya alasannya sendiri, oya di luar masih hujan, duduk dulu nanti hujan reda aku antar kamu ke terminal”.

Leon menengahi tudingan sinis Caesar padaku, mau tidak mau aku akhirnya duduk menemani mereka, menatap buliran hujan yang sepertinya terus saja turun tiada henti, aku cemas, bagaimana kalau hujan ini tak pernah berhenti.

“Lana, tidak masalah kok kalau kamu mau pergi, apalagi untuk menemui ibu kamu, itu bagus, kalian bisa berkumpul lagi, ya kan Caesar?”.

“Yaa, itu benar, kamu tidak akan mencemaskan Lana lagi kan, karena ada ibunya yang akan menjaganya, aku juga bebas dari tugas-tugas kamu, menjadi pengawal dia”.

“Sepertinya begitu, tapi kalau boleh jujur, aku senang melihat kalian berdua bisa dekat, terlepas dari pernikahanku yang tinggal beberapa hari lagi, tapi aku merasa sudah saatnya aku mengembalikan yang seharusnya pada tempatnya ..”.

“Tunggu, bukannya kamu menyukai Lana, dan selalu tidak percaya padaku, dan Lana juga menyukaimu, kalian berdua mempermainkan aku”.

“Caesar, aku memang menyukai Lana, sangat menyukai Lana, benar perasaan cemburu ini tidak pernah bisa hilang dari hatiku, Lana tidak pernah menyukai aku, dia hanya menyukai kamu, dan aku tidak lebih dari seorang teman, mungkin bisa dibilang kakak buat dia”.

“Kau pembohong, aku  liat dia menangisi undangan yang kau berikan, cara dia menatap undangan itu, kau pikir aku bodoh?”.

“Ya, kau memang bodoh, dulu dia berhari-hari menangis hanya karena tidak bisa lagi melihatmu di sekolah, tidak bisa lagi menjadi penguntit kamu, tidak bisa lagi menjadi bayang-bayang kamu”.

“Benarkah begitu?, … tapi, tapi, kau menemaninya setelah itu kan?, dan tentu dia melupakan aku dan berbalik menyukai kamu, secara kamu begitu sangat memperhatikan dia, tentu dia akan jatuh cinta pada kamu”.

“Ya, aku berharap begitu, tapi kenyataannya tidak, aku hanya menyimpan rasaku sendiri sampai akhirnya kamu datang, dan kamu mulai merusak semua hari-hariku”.

“Ehm, tunggu, sepertinya kamu salah, bukan aku yang datang, tapi Susan”.

“Yaa, Susan dan kamu, kalian berdua, mengacaukan semuanya”.

“Yah, baiklah, kalau memang aku ini adalah pengacau, sebaiknya aku pergi”.

“Kau tidak bisa berubah ya, dewasalah sedikit, aku sudah berusaha mendekatkan kalian akhir-akhir ini, tapi kau selalu saja bersikap penuh emosi, bagaimana bisa Lana menyukaimu kalau kau tidak merubah sikap”.

 “Cinta itu buta Leon, kau lupa itu, kalau Lana sudah menyukai aku, sifatku seperti apa juga tidak akan masalah, ya kan Lana?, lagian aku bukan aktor yang bisa berubah sifat dan karakter, aku begini apa adanya”.

“Yaa,tidak usah ribut juga kali, aku hanya merasa selama ini terlalu menggantungkan diriku pada kalian, dan itu sepertinya satu kesalahan, aku mau benar-benar mandiri, aku ingin mencari apa sebenarnya yang aku mau..”

“Dulu kamu menginginkan Caesar, sekarang orang yang selalu kamu impikan ada di depan mata, tapi kamu malah pergi, kamu melepaskan satu kesempatan bagus, apa kamu tidak akan menyesal nanti?”.

“Leon, dulu memang aku selalu memimpikan Caesar, tapi aku sendiri tidak tau apa benar itu yang aku inginkan, lagian misalkan sekarang aku menjalani hidupku bersama Caesar, apa kelak aku tidak akan kehilangan lagi?, kalian tidak bisa menjamin kan?”.

“Kamu takut aku menikah dengan wanita lain, seperti Leon, begitu kan?”.

“Iya, itu sudah jelas, kalian orang-orang yang masa depannya sudah di tentukan, tidak seperti aku”.

“Itu masih lama, dan kalau kau mau aku bisa memperjuangkan hubungan kita, kenapa kamu takut pada masa depan yang belum tentu wujudnya”.

“Bagiku sudah sangat jelas, kehilangan satu teman saja hatiku sudah hancur berantakan, bagaimana aku membiarkan hatiku terluka lagi”.

“Kenapa kamu tidak mau memperjuangkan sesuatu yang kamu mau, kenapa kamu malah pergi sebelum berperang, kamu pengecut Lana”.

“Caesar, aku sadar siapa diriku, bunga yang tumbuh di jalanan yang dibesarkan angin dan hujan, mana boleh di tarok pada sebuah vas yang indah dan mahal, sudahlah, sebaiknya aku pergi saja”.

“Tunggu Lana, berapa lama kamu pergi, maksudku kapan kamu kembali”.

“Aku hanya membawa tas ransel ini saja, semua barangku masih di kamar”.

“Seminggu?, sebulan?”.

“Kira- kira segitu, ayolah Leon kita berangkat”.

“Lana, pasti kan nomor hp ku da Caesar ada di ponselmu”.

“Sudah, semua lengkap di ponselku, tenang saja”.

“Kau harus hubungi aku sesering mungkin, ok?, kau mengerti,?”.

“Iya, mengerti Caesar”.

“Seminggu dari sekarang aku akan jemput kamu ke terminal, mengerti?”.

“HMm, baiklah”.

Aku menggangguk setuju pada kata- kata Caesar, aku hanya mau segera terbebas dari mereka, aku mau segera pergi dari hadapan mereka, sekalipun aku harus berbohong.

***

Hujan rintik mengiringi keberangkatan bis yang aku tumpangi, Leon dan Caesar melambaikan tangan mereka, wajah mereka cemas dan sedih, seperti juga aku. Dari balik jendela yang buram dipenuhi rintik hujan, aku terus menatap kedua lelakiku itu, semakin jauh dan akhirnya menghilang dari pandangan. Ada perasaan tak rela, ingin sekali kembali dan berlari memeluk mereka, ingin sekali aku katakan, “Leon, Caesar, aku menyayangi kalian berdua, dan ingin terus berada di sisi kalian..”. Tapi itu sama saja meletakkan tali gantungan di leherku, aku tidak mau hidup seperti itu, aku mau memulai hidupku yang baru.

Hidup jauh dari mereka berdua, mungkin hari esok tidak akan pernah seindah hari kemaren, tapi itu akan lebih baik untukku, aku akan hidup dalam kenyataan, bukan dalam dunia yang semu dan penuh impian belaka, aku harus menyelamatkan diriku sendiri, aku harus menghindari tangis dan air mata, aku harus menghindari kesedihan yang tiada berujung.

Ponselku pemberian Leon, benda yang sangat berharga bagiku, semua nomor mereka ada di sini, termasuk tante Anisa dan teman- teman di toko. Aku buka perlahan dan aku keluarkan kartu perdana, kalau mau menghilang kartu ini harus di buang, dan tanpa pikir panjang, kartu kecil itu melayang dan menghilang secepat angin, sedih, tapi aku tenang.

Leon, Caesar, aku tidak akan pernah kembali, terimakasih kalian sudah menemaniku, kalian merupakan bagian dari masa laluku, masa lalu yang indah, akan terus menjadi kenangan.

Aku akan memulai hidupku yang baru, sesulit apapun itu, aku akan terus melangkah, sejauh apapun juga aku tidak akan pernah berhenti.

Selamat tinggal masa lalu.

 

Tamat.

 

Jakarta, 27 Januari 2016

Lovebynovember

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s