96% Anak Indonesia Punya Pengalaman Buruk di Internet


Survei  Norton  2010 :

Jakarta- para  orang tua   sebaiknya  lebih  memperhatikan  lagi  aktivitas  Online anak-anaknya. Sebab,  berdasarkan  riset  dari  Symantec,  perusahaan  keamanan  internet,  96 %  anak  di  Indonesia  punya  pengalaman  buruk  dengan  konten  negatif  di  internet.

Konten  negatif  yang  dimaksud  tak  lain  adalah  konten  dari  situs  pornografi,  kekerasan,  perjudian,  hingga  konten-konten  dewasa  lain  yang  belum  saatnya  di akses  oleh  anak-anak.  Demikian  menurut  Effendy  Ibrahim,  Internet  Safety  Advocate  &  Cosumer  Bussines  Lead  untuk  Symantec  Asia.

“Tiga  dari  sepuluh  orang  tua  tidak  waspada  akan  konten  yang  di konsumsi  anak-anak  mereka  saat  online,” papar  Ibrahim  dalam  presentasi  Norton  Online  Family  Report  2010  di  Hotel  Grand  Hyatt,  Jakarta,   Kamis  (1/7/2010).

Effendy  mengaku,  laporan  ini  bukan  untuk  menakut-nakuti  orang  tua,  namun  lebih  ditujukan  untuk  memperingatkan  para  orangtua  agar  lebih  menjalin  komunikasi  dengan  buah  hati  mereka  saat  mengkonsumsi  konten  internet.

Terlebih,  saat  ini  rata-rata  anak  menghabiskan  sekitar  64  jam  untuk  online  setiap bulannya.  Berdasarkan  data  Symantec,  hanya  satu  dari  tiga  orangtua  di Indonesia  yang  memantau  konten-konten  yang  di konsumsi    anak-anak mereka.

Sayangnya,  meski  orangtua  mengetahui kegiatan  yang  dilakukan  anak-anak,  mereka  masih  belum  bisa  menjalin  komunikasi  dengan  baik  terhadap  anak.  “Beberapa  anak  pasti  mengira  bakal  dimarahi  saat  ketahuan  mengakses  situs  dewasa.  Seharusnya  para  orangtua  membuka  komunikasi  yang  hangat  dan  terbuka,”  jelas  Effendy.

Pada  riset  itu  juga  diketahui  bahwa  konten  negatif  yang  beredar  di internet  sedikit  banyak  mempengaruhi sisi   emosional  anak-anak.  Ada  yang  merasa  marah  (53%),  kecewa (40%),  terganggu,  kaget,  atau  khawatir  (semuanya  38%)  karena  telah  melihatnya.

Peran  Orangtua

Lalu  bagaimana  seharusnya  sikap  orangtua  menanggapi  hal  ini?  Orangtua  tentu  memiliki  peranan  penting  terkait  pemahaman  konten-konten  yang  ada  di  internet.

Menurut  Effendy,  kombinasi  antara  tegnologi  dan  cara  berkomunikasi  terhadap  anak  adalah  hal  yang  paling  penting.  Pendekatan  preventif  jauh  lebih  baik  ketimbang  represif  dengan  sikap  menghardik.

Selain  itu,  orangtua  dan  sianak juga   harus  membuat  peraturan  bersama  tentang  tata cara  berinternet  yang  sehat di keluarga.  Salah  satu  caranya  bisa  menempatkan   komputer  ditempat-tempat  strategis  di rumah  dan  seberapa lama  akses  internet  itu  di perbolehkan.

Sementara  dari  sisi  teknis,  orangtua  bisa  memilih  software penyaring  konten  negatif  di  internet.  Sudah  banyak  software gratis  untuk  malakukan  tindakan  pencegahan  ini,  seperti  Norton  Online  Family  yang  sudah  tersedia  dalam  25  bahasa  dunia.

Riset  ini  sendiri  melibatkan  499  orang  dewasa  yang  berusia  di atas  18 tahun.  Dari  jumlah  itu,  102 orang   di antaranya  memiliki  anak  berumur  10-17  tahun.  Sementara  untuk  anak-anak  yang  di  survei  ada  112  orang  yang  berusia  10-17  tahun,  semuanya  rata-rata  menghabiskan  lebih  dari  1  jam  per  minggu  untuk  mengakses  internet.

—————————————————————————————–

Sepertinya,  kita  harus  lebih  memperhatikan  anak-anak  dan  adik-adik  kita  dalam  berinternet,  jangan  sampai  kita  kecolongan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s