7 . aku benci kamu caesar


Tiba-tiba saja Susan gadis gila itu menghentikan langkahku menuju toko kue tempat aku bekerja, dan aku tidak kuasa menolak ketika dia menarik tanganku menuju Taman Kota. Masih pagi Taman Kota ramai dipenuhi oleh pengunjung yang sedang berolah raga,kebetulan ini hari libur, dan memang setiap hari libur tempat ini menjadi sangat ramai.

“Kenapa?, kau pikir aku merindukanmu?, aku mau bicara dengan kamu mengenai Leon”.

Susan  menatapku tajam dan mulai bicara dengan nada yang tidak menyenangkan, huh apa seperti ini semua gadis kaya itu?, berlaku sesuka dia tanpa memperdulikan orang lain nyaman atau tidak, entahlah.

“Kamu dengar baik-baik jangan sampai aku mengulangi kata-kataku, aku mencintai Leon, hubungan kami sudah direstui oleh keluarga kami, sebentar lagi kami akan tunangan, dan setelah Leon merampungkan Kuliahnya, bekerja di Perusahaan Papanya,kami akan menikah”.

Gadis itu tersenyum puas menatapku, dia pikir kata-katanya akan membuat aku memahami apa yang dia inginkan, justru aku semakin tidak mengerti, apa hubungannya dengan aku, dan setauku Leon mendalami Ilmu Hukum, itu tidak sejalur dengan Perusahaan Papanya, ah apa perduliku.

“Susan, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Leon, dan aku tidak perduli apakah kalian akan tunangan atau menikah langsung, itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan aku”. Aku mengutarakan apa yang aku rasakan, dan aku bersiap untuk pergi dari gadis kaya ini.

“Aku belum selesai, tentu saja ada hubungannya denganmu, karena kamu ada di antara aku dan Leon, kamu menghalangi hubungan kami berdua”.

Susan memegangi lenganku dengan erat, dia tidak membiarkanku pergi, dan dia masih menuduhku sebagai pengganggu hubungan dia dan Leon.

“Aku tidak mengerti apa maksudmu, aku dan Leon hanya berteman, apa salah kalau kami berteman?”.

“Teman seperti apa antara seorang gadis dan pemuda?, hubungan seperti apa itu?, semua orang yang melihat akan berpikiran kalau kalian itu pacaran”.

“Tidak, kami tidak pacaran”.

“Ya, kalian pacaran, dan aku mau kalian bubar, tidak berhubungan lagi, dan kau jauhi Leon, pergi jauh dari Kota ini”.

Aku menatap bola mata Susan,bola mata yang berwarna abu-abu itu, bola mata yang bagiku seperti bola mata hantu yang mengerikan, dia terlihat sangat marah, dia serius, tatapannya penuh dengan kebencian.

“Ada apa ini?, kalian bertengkar di tempat umum seperti ini?, sungguh kekanakan sekali, aku berikan tepuk tangan yang meriah untuk kalian berdua, ckckck, kalian benar-benar hebat”.

Caesar muncul dengan senyuman lebarnya, tepukan tangannya membuat beberapa orang yang berada di sekitar sana menatap kami dengan penuh selidik.

“Diam kamu Caesar, apa yang mau kamu perlihatkan padaku?”.

Susan sepertinya sudah mengetahui kalau Caesar akan datang, dan tiba-tiba saja aku seperti menjadi pecundang di antara mereka berdua, Leon, kamu di mana?, aku merasa terancam oleh dua makhluk ini, aku takut.

“Hoho.. sabar Tuan Putri, ini dia,kau lihatlah sendiri”.

Caesar memberikan sebuah Ponsel kepada Susan, sepertinya aku mengenal Ponsel itu, tapi aku tidak yakin, untuk sesaat Susan memeriksa apa yang ada di Ponsel itu, wajahnya mendadak merah seperti udang rebus.

“Cukup, bagaimana?, apa kau puas sekarang?, oya, ini aku yang pegang, jadi semua balasan ini dari aku, kau mengerti kan?, jangan marah pada orang yang salah”.

Caesar merebut ponsel itu dari tangan Susan, gadis itu sepertinya belum puas, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, hanya melotot marah pada Caesar yang tersenyum dan duduk dengan santai di bangku yang dari tadi kosong.

“Ini tetap kesalahan dia, sekalipun ponsel itu dia yang pegang, jawabannya tentu tidak akan jauh berbeda dari itu, kau benar-benar membuat aku marah”.

Aku menggeser langkahku menjauh dari Susan, dia sepertinya benar-benar akan meledak.

“Hei, kau tidak bisa berlaku seenaknya seperti itu, dia tidak ada hubungannya dengan masalah ini, kalau kau tidak bisa mengontrol dirimu sendiri, aku tidak mau membantumu lagi”.

Caesar menatap Susan dengan tatapan yang serius, senyuman yang dari tadi menghias bibirnya berganti dengan ketegasan yang membuat Susan gentar dan terdiam. Aku menjadi cemas,sepertinya mereka berdua bersekongkol dalam satu masalah yang melibatkan aku,mungkin bukan secara langsung,tapi pasti ada kaitannya dengan aku, aku merasa ingin lari dari tempat ini, tapi tatapan Susan mengunci langkahku, kakiku seperti tertanam dalam dan tidak bisa bergerak.

Seseorang datang perlahan, Leon datang dengan diam, menatap aku, menatap Susan dan terakhir menatap Caesar.

“Kau menyuruhku datang ke tempat ini?, sepenting apa urusan itu?, dan kenapa ada mereka juga?”.

Leon menatap tajam pada Susan, wajahnya terlihat tidak nyaman dengan kondisi seperti ini, dan satu hal yang aku sadari, mereka bertiga berasal dari kalangan yang sama, dan mereka bertiga sudah saling mengenal,aku bisa melihat itu dari pandangannya, ketiga orang ini sudah saling mengenal, bodoh sekali aku, aku menjadi bahan permainan mereka, uh, mendadak hatiku menjadi kesal.

“Ini, aku minta penjelasan tentang apa yang tertulis di Ponsel ini”.

Ponsel yang di pegang oleh Caesar dengan cepat berpindah tangan ke pada Susan, dan terakhir Ponsel itu mendarat mulus di tangan Leon. Leon memperhatikan Ponsel itu, sesekali matanya melirik kepadaku.

“Kau minta penjelasan tentang apa?, sudah jelaskan, itu bahasa sehari-hari kita, sudah tidak perlu dijelaskan lagi”.

Leon memberikan komentar, dan Susan sangat marah.

“Oya, kau tidak tau kan?, siapa yang memegang Ponsel itu, Caesar yang memegang Ponsel itu, jadi yang membalas itu semua adalah Caesar, kau menyakiti perasaanku Leon”.

Susan mulai menangis, seperti yang ada di Film korea yang aku tonton, drama percintaan yang penuh dengan air mata, tapi saat ini bukan drama, ini nyata, aku merasa kasihan pada Susan, sepertinya aku bisa merasakan kesedihannya saat ini.

“Kalian uruslah berdua, itu masalah kalian”.

Caesar berdiri dan mengajakku pergi, Leon menatap  kepergian kami, akhirnya aku bisa bebas dari masalah ini, hatiku berkecamuk, seperti ini rasanya berada di tengah-tengah mereka, sekarang aku berjalan diam di samping Caesar yang juga diam, aku merasa canggung, tidak tau harus bicara apa.

“Caesar, apa sebenarnya yang terjadi?”. Akhirnya rasa penasaranku mengalahkan perasaan canggung itu.

“Tidak ada apa-apa, seperti biasa Susan menuduhmu menggoda Leon, tapi sekarang sudah ketahuan, siapa sebenarnya penjahat utamanya, kau aman sekarang, tidak ada alasan lagi bagi Susan untuk memarahimu”.

Aku tersenyum simpul mendengar penjelasan Caesar, aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan, tapi aku sangat senang bisa bertemu lagi dengan lelaki ini, lelaki yang dulu hanya bisa aku tatap dari jauh, impianku dulu bisa berjalan berdua dengan lelaki ini,hari ini impian itu menjadi nyata, walau hanya menempuh jarak yang tidak terlalu jauh, Taman Kota menuju Toko Kue tempat aku bekerja, sepanjang jalan kami hanya diam,dan sesekali mata kami saling bertemu, dan akhirnya kami saling tersenyum malu. Aku berasa menjadi anak remaja yang malu-malu ketemu dengan pacarnya, uhhh, pacar?, duh Lana ayo sadarrr …

****

Leonku sudah menunggu kepulanganku, seperti biasa dia membawa makanan, kami makan berdua,menikmati malam yang terasa gerah karena sudah beberapa lama tidak turun hujan, sepertinya musim Panas akan bertahan lama. Leon sudah tidak canggung berada di ruangan yang sempit ini, itu yang membuat kami bisa berteman sampai dua tahun lebih, dia menempatkan dirinya sejajar denganku.

“Leon, apa sebenarnya yang terjadi pagi tadi?”.

“Apa Caesar tidak cerita padamu?”.

“Ada, tapi aku masih tidak mengerti”.

“Jelas kamu tidak mengerti, karena yang ada di pikiranmu hanya wajahnya yang tampan itu, apapun yang dia katakan satupun tidak akan nempel di otakmu ini, benarkan?”.

Leon menjitak keningku pelan, aku tertawa, aku tau Leon berusaha menggodaku, dia mencoba untuk bersikap biasa saja, bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, tapi aku tau dari tadi Leon sangat terlihat canggung.

“Leon, andai kau tau, hatiku benar-benar bergemuruh, seperti ombak pasang menghempas pantai, Leon, aku tidak bisa bicara apapun, sepanjang jalan kami hanya diam, padahal banyak sekali yang ingin aku tanyakan padanya, tapi lidahku ini kelu, Leon,, aku ini kenapa?”.

“Kau sedang jatuh cinta”.

“Benarkah?, aneh sekali, dulu aku tidak merasakan seperti ini?”.

“Dulu kau jatuh cinta pada orang yang tidak perduli padamu, tapi sekarang kau jatuh cinta pada orang yang perduli padamu, orang yang selalu menyelamatkanmu”.

“Benarkah?, kau hanya ingin menyenangkan hatiku saja”.

“Kau senang sekarang?, kalau begitu, nikmati saja”.

“Hei, Leon, kau kenapa, kau terlihat sedih, apa Susan membuatmu sedih?”.

“Aku tidak sedih, kau tau waktu aku di Bandung kemaren, hatiku berbunga-bunga, karena seseorang yang aku cinta menerima perasanku, beberapa hari aku berpacaran dengannya,menikmati hari-hari yang indah, apa yang kau rasakan tadi, semuanya juga aku rasakan kemaren”.

“Waw, benarkah?, kau tidak pernah cerita, aneh”.

“Tadi pagi hubungan kami berakhir”.

“Jadi itu yang membuatmu sedih, Leon, aku tidak bisa bantu apa-apa”.

“Kau lucu sekali, kau tidak usah melakukan apapun, kau duduk diam di sampingku seperti sekarang saja itu sudah membuat aku senang, kau sudah membuat aku melupakan semua kesedihanku, oya, ini Ponselmu,ambillah”.

Ponsel yang pagi tadi menjadi topik pertengkaran sekarang ada dalam genggamanku, di bantu oleh Leon aku melihat semua isi Ponsel itu, jantungku berhenti berdegub, Leon menatapku tersenyum, dia mengacak rambutku, hal yang selalu dia lakukan setiap kali hatinya gemas, dan tidak tau harus berbuat apa padaku.

“Leon, ini apa?”.

“Ya, ini yang membuat Susan marah padamu tadi pagi, ini sms aku, ini pesan FB aku buat kamu, tapi ternyata Ponsel ini ada pada Caesar, aku beberapa hari ini pacaran dengan Caesar, aku mengira itu kamu, Lelaki kamu itu mempermalukan aku, dia membeberkan semuanya kepada Susan, dan kamu tau kelanjutannya seperti apa”.

“Leon, kamu marah?”.

“Marah pada siapa?, apa kau mengijinkan aku memarahi Caesarmu itu?”.

“Aku akan menjauh dari kamu, Susan sangat mencintai kamu, kita harus jaga perasaan Susan”.

“Lalu,bagaimana dengan aku, bagaimana dengan perasaanku, apa kau tidak perduli sedikitpun dengan aku?, aku tidak mau kau menjauh”,

“Tapi kita salah Leon, hubungan pertemanan kita menyakiti orang yang mencintai kamu, hubungan seperti ini tidak boleh dilanjutkan”.

“Pertemanan berakhir maka akan menjadi permusuhan, apa kau ingin bermusuhan denganku?, yang jelas kau akan rugi, kau tidak akan mendapatkan makanan gratis seperti tadi”.

“Benar juga, bermusuhan denganmu aku akan menjadi kelaparan, menjadi kesepian, uh rugi banyak aku,, tapi sebentar.. apa menurutmu aku adalah teman yang harus kau beri makan?, kau menyamakan aku dengan kucing?”.

“Haha, tentu saja kau bukan kucing,kau adalah Alana, kau teman ku, apa kau masih mau mengakhiri pertemanan kita?”.

“Katakan keuntungan aku berteman denganmu,tentu saja selain masalah makanan”.

“Baiklah, yang jelas kau saat ini berada dalam masalah besar, sekalipun kau menjauhi aku, Susan akan tetap meletakkanmu pada posisi musuh nomor satu bagi dia, kau akan terus dikejarnya, kau adalah rumput liar yang merusak tanaman bagi dia, kau harus dibasmi sampai ke akar-akarnya, dan aku akan melindungi kamu dari dia”.

“Sehina itukah aku?, hanya karena aku tidak sekaya kalian?, dan aku tidak secantik dia?, menyedihkan sekali nasibku”.

“Yang kedua, kembalinya Caesar dalam kehidupanmu, dia adalah ancaman besar bagimu, kau adalah kelinci, dan Caesar adalah harimau yang setiap saat akan menerkammu, kau lengah dia akan menyantapmu habis tak bersisa, dan aku adalah penjagamu dari dia, aku akan melindungimu, kau mengerti?”.

“Kau kira aku makanan?, sepertinya kau sangat putus asa,sehingga kau membuat perumpamaan seperti itu, aku memang pengkhayal, penyuka drama Korea, aku juga suka dengan Film Cinderella, tapi kau tidak bisa mendongeng di depanku, aku tidak percaya dongeng seperti itu”.

“Ternyata kau pintar juga, aku pikir otakmu ini kosong”.

“Katakan saja dengan singkat dan padat, apa alasannya pertemanan kita  tidak boleh berakhir, aku tidak suka berbelit-belit, aku pusing mikirnya”.

“Baiklah, aku lupa kalau kau adalah gadis bodoh dengan nilai Akademik terendah, kau tidak bisa mikir….”.

“Hei, ini tidak ada hubungannya dengan nilai Sekolahku, kau mau aku hajar?”.

“Ya, ya, baiklah, karena hanya ada 3 pilihan, yang pertama kita pacaran, kau jelas tidak mau, yang kedua kita bermusuhan, kau rugi banyak untuk pilihan yang kedua ini, sedangkan pilihan terakhir adalah kita tetap berteman seperti sebelumnya, ini pilihan yang terbaik untuk kita saat ini”.

“Kau mempermainkan aku lagi, itu bukan alasaaaannn, kau pikir aku sangat bodoh”.

“Oya, ada satu pilihan lagi, kau menjadi selingkuhanku, kita akan berhubungan secara diam-diam, tanpa suara, bagaimana, sepertinya pilihan terakhir ini lebih seru, lebih menantang, kau setujukan?, ini akan menjadi petualangan yang hebat untuk kita berdua”.

“Lama-lama kau semakin gila, aku tidak mau, itu seperti pencuri, seperti kucing yang mencuri ikan dari majikannya, menjijikkan”.

“Semua pilihan yang aku berikan kau tolak, kau benar-benar menjengkelkan”.

“Sudah, pulang sana, kau yang membuat aku jengkel, aku mau tidur”.

“Hooo, setiap ada masalah kau selesaikan dengan cara tidur, baiklah aku pulang, percuma bicara dengan orang yang tidak bisa menggunakan akalnya, selamat malam, mimpi indah, mimpikan aku yaa”.

“Keluaaaarrrrrrrrrr…….”.

Ingin sekali menghajar mu dengan bantal, tapi kau sudah menghilang, kau membuat aku menjadi sangat bodoh, semua pilihanmu tidak ada yang menyenangkan, semuanya menempatkan aku sebagai orang yang tidak punya harga diri, uh, malang sekali nasibku, apa aku akan menjadi pecundang?, apa seperti ini garis hidupku, uhhhhh menjengkelkan.

Bagaimana dengan Caesar?, tiba-tiba saja aku ingat lelaki ini,  kenapa kau seperti seorang yang berhati jahat, kau menyakiti hati temanku, tidak seharusnya kau berbuat curang seperti itu, kau mempermalukan Leon, kau menikam dari belakang, sepertinya kau menjadi penjahat berhati dingin. Sekarang kau curangi Leon untuk mendapatkan hatiku, kau buat Leon dan Susan bertengkar, lalu kau mengajak aku pergi dari mereka, seakan-akan kau adalah Pahlawan. Ini kau lakukan karena kau mungkin ada rasa suka atau rasa kasihan padaku,entahlah,aku tidak bisa memastikan perasaan apa yang kau miliki saat ini untukku, tapi tetap saja kau tidak bermain dengan adil, ku curang. Besok–besok, ketika kau tidak menyukai aku lagi, tentu aku yang akan kau curangi, kau pengkhianat.

Caesar aku benci padamu…

Jakarta,Jum’at 11 September 2015

Love By November

‘.

Satu pemikiran pada “7 . aku benci kamu caesar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s