9. terbelenggu rindu


Oktober pertengahan suasana semakin panas, bagaimana dengan diriku, hatiku, perasaanku?, entahlah, sepertinya aku berjalan dalam mimpi yang buruk, yah hidupku seperti berada dalam sebuah mimpi yang buruk, aku ingin sekali terjaga dari kondisi ini, tapi betapapun kerasnya aku berusaha, aku tetap gagal. Baca lebih lanjut

8. pelangi di matamu


Ketika mimpi malam membangunkan aku dari tidur yang panjang, kau hadir dengan senyumanmu, tapi hanya sesaat setelah itu berganti dengan sosok yang lama ku buang jauh, aku risau, apa yang terjadi dengan diriku. Aku mencoba untuk memahami apa yang terjadi akhir-akhir ini, tapi semakin di pikirkan aku semakin tidak mengerti, semua mengalir tak terkendali. Malam bawa aku jauh dari semua kekacauan ini, aku merasa hidupku menjadi sangat rumit, aku ingin pergi jauh dan jauh.

Baca lebih lanjut

7 . aku benci kamu caesar


Tiba-tiba saja Susan gadis gila itu menghentikan langkahku menuju toko kue tempat aku bekerja, dan aku tidak kuasa menolak ketika dia menarik tanganku menuju Taman Kota. Masih pagi Taman Kota ramai dipenuhi oleh pengunjung yang sedang berolah raga,kebetulan ini hari libur, dan memang setiap hari libur tempat ini menjadi sangat ramai.

“Kenapa?, kau pikir aku merindukanmu?, aku mau bicara dengan kamu mengenai Leon”.

Susan  menatapku tajam dan mulai bicara dengan nada yang tidak menyenangkan, huh apa seperti ini semua gadis kaya itu?, berlaku sesuka dia tanpa memperdulikan orang lain nyaman atau tidak, entahlah.

“Kamu dengar baik-baik jangan sampai aku mengulangi kata-kataku, aku mencintai Leon, hubungan kami sudah direstui oleh keluarga kami, sebentar lagi kami akan tunangan, dan setelah Leon merampungkan Kuliahnya, bekerja di Perusahaan Papanya,kami akan menikah”.

Gadis itu tersenyum puas menatapku, dia pikir kata-katanya akan membuat aku memahami apa yang dia inginkan, justru aku semakin tidak mengerti, apa hubungannya dengan aku, dan setauku Leon mendalami Ilmu Hukum, itu tidak sejalur dengan Perusahaan Papanya, ah apa perduliku. Baca lebih lanjut

hadiah tak terduga


Perjalananku kali ini ke Bandung bersama Papa membuat aku lelah, aku suka dengan kota yang sejuk ini, setidaknya kebisingan Jakarta tidak terlihat di sini, seharian mengikuti Papa benar-benar membuat aku tidak nyaman. Dari kecil aku sudah di perkenalkan kepada semua keluarga, itu menurutku hal yang memang seharusnya aku lakukan, mengenal keluarga besar Papa dan keluarga besar Mama, berkenalan dengan semua saudara sepupu dan bermain dengan mereka itu juga menjadi rutinitas semenjak kecil, aku masih menikmati dengan kegembiraan, masih mengasikkan bagiku. Semakin ke sini, ketika aku beranjak remaja, Papa mulai mengajak aku kepertemuan rekan kerjanya, aku mulai di kenalkan kepada orang-orang yang menatapku penuh selidik, aku mulai merasa tatapan aneh dan senyuman yang terasa aneh juga, aku mulai merasa tidak nyaman. Sekarang aku semakin tidak nyaman, ketika kehadiranku membuat beberapa orang merasa terancam, mereka berbisik dan menatapku penuh selidik, senyuman mereka mulai kaku, sumpah aku benar-benar merasa berada di sebuah dunia yang sangat asing, aku berdiri mematung di tengah mereka yang penuh dengan kepura-puraan.

Baca lebih lanjut

pelayan


Siang ini cuaca sangat cerah, matahari bersinar dengan terik, hatiku terasa ikut gerah, tapi sangat sepi ketika aku menyadari diriku berada di taman ini sendiri, tanpa kedua orang teman yang seharusnya sudah ada di sini menemaniku. Rudi sitampan berambut ikal, kulit kuning, tapi ketampanannya tetap belum bisa menandingi ketampananku, itu sudah terbukti dari cerita gadis-gadis yang selalu mengejarku 😀  , karena Papanya bekerja di Perusahaan Papaku, jadilah dia teman yang selalu mengikuti kemana saja kakiku melangkah, itu sudah berlangsung semenjak kami bersekolah lanjutan tingkat atas dulu, sampai sekarang aku masuk ke Fakultas Ekonomi, diapun ikut masuk ke jurusan yang sama, entah apa tujuannya, aku tidak mengerti, apa benar-benar ingin mempelajari Ekonomi atau hanya sekedar untuk tetap dekat dengan ku, 😀 . Baca lebih lanjut