Pagi ini mama terbangun dengan senyuman yang indah, seperti kemaren dan kemarennya lagi, jendela kamar mama sudah aku buka lebar-lebar agar udara pagi masuk memenuhi kamar mama.
Aku mencium pipi mama, senyuman mama kembali mekar, dan tangan mama yang besar membelai anak rambutku, berusaha menyibakkan sehingga jenong yang selalu aku tutupi terlihat nyata, aku berusaha menghindar, dan mama tertawa menggoda.
“Ma, Eva berangkat sekolah dulu ya …”. Bisikku, dan mama menganggukkan kepalanya, aku menyelipkan wajahku dipangkuan mama, mama berusaha mengangkat wajahku, dan seperti kemarennya lagi, mama mengusap air yang mengalir turun dari mata ini, entahlah …
Langkah kakiku berat meninggalkan mama, serasa membawa beban berton-ton di pundakku, seakan tak rela berpisah dari mama, walaupun satu detik. Tapi aku harus terus melangkah, aku harus kuat, aku tidak boleh cengeng, aku tidak boleh lemah, aku harus tegar.
Sembilan bulan sepuluh hari aku berada dalam kandungan mama, letih lelah, tidur tidak nyaman, makanpun tak ada yang nikmat, belum lagi ketika mama melahirkan aku, separuh nyawa mama gadaikan, rasa sakit mama tidak perduli demi kelahiran buah hatinya, ditambah lagi waktu bayi, mama siang malam menjaga, seekor nyamukpun tak mama biarkan mendekati aku.
Aku mulai tumbuh dewasa ma, putri mama yang dulu mama timang, yang dulu setiap hari mama do’akan menjadi besar dan hebat, yang dulu mama ajari memasak, menyapu, mencuci pakaian, ma …
Aku kuat ma, seperti yang mama harapkan, aku harus kuat karena hidup ini sangatlah kejam, seperti waktu mama tidak punya uang untuk beli beras, aku kuat puasa dari pagi sampai sore, waktu teman-temanku jajan di kantin, aku juga kuat berdiam diri di kelas, ma … padahal waktu itu aku sangat lapar , tapi mama tidak kasih aku uang jajan, aku kuat kok ma …
Tapi, minggu lalu waktu om Prio datang dan berbicara dengan papa, aku dengar pembicaraan mereka, maaf ma, aku nguping, karena aku ingin tau, ada rahasia apa …
Dan aku seperti disambar petir ma, tubuhku kaku tidak bisa bergerak, kepalaku tiba-tiba saja berputar-putar, aku terduduk ma, tapi aku masih kuat untuk terus mendengarkan rahasia itu.
Sekarang, aku ada dalam rahasia itu, dan aku tidak mau kehilangan setiap detik yang berharga, pokoknya, aku janji akan menjadi putri mama yang paling mama banggakan.
Dalam diam aku memohon kepada Tuhan, berikan hari-hari terindah untuk mama, berikan senyuman terindah untuk mama, aku rela Tuhan ambil mama kalau memang itu yang terbaik, karena aku tau, penyakit mama sudah tidak bisa disembuhkan lagi, hari demi hari kanker hati itu menjalari seluruh tubuh mama, semua dokter dan profesor sudah angkat tangan, dan keputusan untuk mama sudah final, mama hanya menunggu hari …
Mama, aku akan tegar, senyuman terindah mama akan aku simpan dalam relung hati paling dalam …

lozz akbar
Juli 9, 2012 at 11:45 pm
kunjungan perdana Uni, kok malah disuguhi sesuatu yang sedih